Kudaku Lari Gagap Bertali

oleh Priska Kalista

Pakaiannya berwarna merah marun bermodel pendekar Madura: baju tak berkerah yang dibiarkan tak dikancing serta celana sate. Menutupi kaus warna hitam yang sudah memudar. Peci di kepalanya ia lepas. Ia memarkir bendinya di pinggir lapangan. Dihampirinya ember biru yang terletak di depan bendi. Kakinya yang menginjak kotoran kuda tak ia perdulikan. Tangannya dengan mantap meramu ampas tauge yang dicampur dedak dan rumput dalam ember itu. Diaduknya racikan itu dengan tangan kanannya tanpa rasa jijik. Si kuda meneteskan air liur.

Kuda putih itu langsung melahap santapan siangnya tanpa melepaskan sedetikpun pandangan dari ember biru. Lahapnya berburu dengan napasnya yang berat; tanda lapar. Moncongnya tidak pernah ditarik dari adonan makanannya. Sesekali diseruputnya air dengan memenamkan wajahnya ke hidangan. Dalam waktu sepuluh menit, telah ia habiskan setengah dari porsi makanannya.

Rangga adalah satu-satunya kuda berwarna putih yang menarik bendi di kawasan A, yaitu di sebelah timur Panggung Anak-Anak, Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Derap kakinya mantap, hiasan bola merah di dahinya membuatnya tampak lincah dan lucu. Jantan itu harus mengelilingi sebuah taman luas dan memakan waktu ±5 menit setiap kali majikannya mencambuknya. Empat orang yang menjadi jatah maksimum tiap bendi kadang dilanggar demi senyum dan tawa pelanggan. Ya, anak-anak kecil suka sekali menaiki bendi Rangga atau bendi teman-temannya. Maklum, menaiki bendi menjadi barang yang langka dan mahal didapat di Jakarta.

Layaknya pekerja kantoran, Rangga bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Istirahat hanya diberikan setengah jam pada pukul 13:30. Di luar itu, Rangga harus siap menarik bendi, menahan lelah, dan menerima perintah dari kendali serta pecut. Urat-urat di kakinya yang tegap telah banyak berbicara betapa tangguhnya hidup hewan berkuku genap itu. Matanya yang selalu sayu dan menatap kosong terlihat lelah berteriak. Air liur selalu jatuh dari mulutnya karena tali yang dikaitkan di rahangnya. Menandakan tangisan yang hendak ia tumpahkan dari mata yang terlihat tegar itu. Napasnya yang terengah terlihat pada hidungnya yang kembang kempis. Minum pun jarang-jarang. Padahal usianya masih lima tahun, usia yang masih tergolong muda dibandingkan usia maksimum yang dapat dicapai kuda-kuda lainnya, yaitu 28-30 tahun.

“Ya, kasihan. Tapi gimana lagi?” ujar Anto, pemilik bendi dan Rangga. Sebelumnya Anto bekerja di sebuah pabrik kendaraan di Tangerang, Karawaci. Namun lulusan STM di Purwokerto ini harus di-PHK sehingga harus bekerja sebagai penarik bendi sejak tahun 2004. “Apa boleh buat, daripada nganggur,” kenangnya. Ketika itu ia ditawari temannya untuk bergabung sebagai penarik bendi di Taman Margasatwa Ragunan. Kebetulan karyawan kebun binatang ini banyak yang berasal dari Purwokerto. Ia kemudian membawa Rangga dari Purwoerto ke Jakarta dengan naik truk. Penarik-penarik bendi ini harus membuat kartu anggota dulu kepada pengelola kebun binatang. Hasilnya lumayan untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi di hari-hari libur besar seperti Lebaran kali ini. Jejaka domisili Kebayoran ini sanggup membawa uang Rp600.000 dalam satu hari.

Pihak pengelola Taman Margasatwa Ragunan menetapkan tarif Rp10.000/bendi. Dari situ, terjadi bagi hasil antara kebun binatang dengan pemilik bendi. “60-40. 60 buat mereka. 40 buat kami,” ucap Aris, pengawas fasilitas bendi. Bagi hasil dilakukan setiap sore setelah selesai bekerja.

Wahana bendi itu sendiri berjumlah 26. Jumlah itu dibagi dua sama rata berdasarkan lokasi: sebelah timur Panggung Anak-Anak dan sebelah utara kandang peragaan simpanse. Wahana naik bendi ini menjadi salah satu daya tarik kebun binatang selain Gajah Tunggang dan Onta Tunggang. Bedanya, kuda penarik bendi ini bukan binatang konservasi Ragunan. Kebanyakan dari mereka berasal dari Ulujami dan Kebayoran. “Binatang konservasi kan ga boleh berinteraksi rutin dengan manusia. Mereka dibiasakan untuk nantinya dilepas di alam liar lagi,” kata Aris.

Sebagai hewan milik pribadi, Anto-lah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan Rangga. Rangga tak memiliki hak untuk menikmati fasilitas Rumah Sakit Hewan di kawasan Ragunan. Tidur pun kadang-kadang harus mengalah jika istalnya penuh atau harus dipakai untuk kepentingan lain. Selama libur Lebaran ini, Rangga harus tidur di dekat balai pertanian karena tempatnya yang biasa beralih fungsi menjadi tempat parkir. Untuk menjaga kesehatan, Anto memberi telur seminggu sekali serta makan dedak dan rumput.

Published in:  on October 1, 2009 at 2:51 am Leave a Comment

Langit Makin Mendung

Cerpen: Ki Pandjikusmin

LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”

Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”

“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).

***

Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”

Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.

Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.

“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”

“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.

Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.

Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.

Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”

Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.

Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.

Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”

“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh. Gilakah mereka?”

“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”

“Aneh!”

“Memang aneh.”

“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu!”

“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.

“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”

Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.

Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:

“Amien, amien, amien.”

Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.

Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

***

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.

Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.

Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.

Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.

“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”

“Tidak, Pak.”

“Jadi tidak berbahaya?”

“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”

“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.

Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.

“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”

Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).

Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.

Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.

“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.

Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.

Dokter pribadinya berbisik.

“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.

“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.

Siapa bilang Bapak dari Blitar

Bapak ini dari Prambanan

Siapa bilang rakyat-

Malaysia yang kelaparan …!

“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.

“Gembira sekali nampaknya dia.”

“Itu tandanya hampir mati.”

“Mati?”

“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”

“Tapi kami belum siap.”

“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”

“Tunggu saja tanggal mainnya!”

“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.

“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.

Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.

Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.

Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!

***

Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.

Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.

“Apa benar yang paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.

Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.

Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.

Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.

Hansip repot-repot …

“Apa yang Paduka renungi.”

“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.

“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.

“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”

“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”

“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”

“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”

“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.

“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”

“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”

“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :

Pelacur-pelacur kota Jakarta

Naikkan tarifmu dua kali

dan mereka akan kelabakan

mogoklah satu bulan

dan mereka akan puyeng

lalu mereka akan berzina

dengan istri saudaranya

“Penyair gila! Cabul!”

“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.

Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.

Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.

“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”

“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.

“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”

“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

“Sama jahat keduanya pasti!”

“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”

“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.

“Ya, dunia sudah tua!”

“Padahal Kiamat masih lama.”

“Masih banyak waktu ya, Nabi!”

“Banyak waktu untuk apa?”

“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”

“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”

Kedua elang terbang di gelap malam.

“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”

“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”

Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.

“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”

“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”

“Sebetulnya siapa menurut kamu?”

“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”

“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”

“Dokumen.”

“Dokumen?”

“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”

“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”

“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”

“Ooh.”

Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.

Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.

“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”

Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.

“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”

Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.

Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!

“Apa kabar Yang Mulia Togog?”

“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”

“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”

“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.

“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”

“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”

“Jadi kapan selesai?”

“Seminggu lagi, pasti beres.”

“Kenapa begitu lama?”

“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”

“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”

“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.

Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.

“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”

“Siapa mereka?”

“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”

Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.

Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.

“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”

***

Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.

Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.

Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.

“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.

“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”

“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”

“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”

“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”

“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”

“Apa katanya?”

“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”

“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.

“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”

“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”

“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”

“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”

“Kenapa begitu?”

“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”

“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.

“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “

Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.

Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.

“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”

“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”

Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.

“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.

“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”

“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”

“Gimana ini, Togog?”

“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.

“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.

“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”

“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”

“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”

“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”

“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.

“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.

“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”

“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”

“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”

PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.

“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”

“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”

“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”

“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”

“Yani ragu-ragu?”

“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”

“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”

“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”

“Bagaimana itu?”

“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”

Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.

Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.

“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.

“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”

Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.

Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.

Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.

Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.

“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”

“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”

“Pak Yani, tentu.”

“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”

“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.

“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”

“Dia nggak takut mati?”

“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.

Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.

***

Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.

“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.

Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.

Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.

“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”

“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”

Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.

Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.

Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.

Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***

(Dikutip dari: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin: 17-41, 2004, MELIBAS: Jakarta).

Published in:  on September 29, 2009 at 5:44 am Leave a Comment

PERNIKAHAN BEDA AGAMA (2)

Sebuah refleksi atas hukum dan HAM
oleh Priska Kalista

To love another person is to see the face of God.”
Kata-kata itu kulihat dua hari yang lalu ketika aku sedang membereskan tumpukan buku yang berserakan di lantai kamar kostku. Tepatnya, tulisan itu tertera di buku kenangan Putri Santa Ursula Marching Brass (PSUMB) dalam keikutsertaannya di Grand Prix Marching Band XX yang bertempat di Istora Senayan Jakarta, 18-19 Desember 2004. Tulisan berwarna hijau yang menjadi satu-satunya kalimat pada halaman pertama buku itu tidak begitu kugubris. Aku membalik-balik halaman buku itu. Aku mengenang masa-masa ketika aku masih muda, aku tersenyum melihat fotoku yang genit, aku teringat zaman ketika aku menjabat sebagai Field Commander sekaligus Asisten Pelatihan di PSUMB. Ah, masa-masa itu jauh lebih menyenangkan ketimbang sekarang. Setelah usai melihat foto-foto lama, aku tiba di halaman terakhir buku itu. “To love another person is to see the face of God.” Kalimat itu terpampang lagi pada halaman terakhir. Warna hijau metalik yang digoreskan pada kertas berwarna hitam itu sungguh terlihat menarik. Aku mengerutkan dahi. Mengingat sesuatu yang sudah kulupakan. Ya, kata-kata itu adalah cuplikan sebuah bait dalam salah satu lagu pada pagelaran paket kami. Ketika itu PSUMB membawakan paket Les Misérables, sebuah novel karya Victor Hugo yang juga telah dibuat dalam versi musikal oleh Alan Boublil dan Claude-Michel Schonberg, yang merupakan salah satu karya musikal yang paling sukses sepanjang masa dan sampai saat ini masih ditampilkan di Broadway. Dan kalimat cuplikan itu diambil dari salah satu lagunya yang berjudul One Day More, kisah pembebasan dari perbudakan, yang juga mengisahkan cinta tokoh-tokohnya. Kutatap lagi kalimat itu. Kubaca pelan-pelan dalam hati. “Hmph…,” aku mengehela napas seraya menutup buku itu dan menaruhnya di rak. Ternyata butuh lima tahun untuk membuat hatiku tersentuh dan menyadari betapa dalam makna kalimat itu.

1 Januari 2009, sekitar pukul 00:30.
BRAK!! Krek. Aku membenamkan kepalaku di bantal dan menangis meraung-raung. Amarah yang membakar hatiku bercampur dengan rasa benci hingga rasanya aku sanggup untuk mengepak barang-barangku dan pergi selamanya dari rumah.
Jegrek. “Pris, buka kuncinya!”
“Ga mau!”
“Ayo toh, buka kuncinya! Ga gini caranya!”
Aku bangun dan membuka kunci kamarku.
Mamaku masuk. Ia berbicara dengan sok diplomatis. Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, aku sudah menutup telinga akan segala perkataan orang tuaku.
“Ga adil! Papa mama egois!” teriakku sambil terisak.
“Papa mama bukannya egois, ini kan demi kebaikan kamu,” balasnya.
Huh, kataku dalam hati, kebaikanku? Kebaikan kalian iya!

6 Januari 2008, setelah makan siang.
Angin di pesisir lautan membawa terbang rambutku. Bunyi ombak yang memecah karang terdengar bagai nyanyian putra-putri Poseidon, sang dewa laut. Bau asinnya air laut menjadi harum bercampur dengan semerbak bunga yang bermekaran di atas kepalaku. Teriknya matahari menjadi teduh di sudut pantai yang tenang, di tempat aku duduk bersila berhadapan dengannya.
“Priska Eugenia Kalista… Maukah engkau menjadi kekasihku?”

18 Juli 2009, Bandung, percakapanku dengan sepupuku.
“Makin rame aja nih kasus di keluarga kita. Mas Ardi sama Mbak Virgie, Mas Danang sama Agustin, gue sama Koko, elu, trus Anggi kan juga tuh sama pacarnya.”

Akhir April 2009, percakapan di telepon dengan salah seorang fasilitator KomJak, Daniel Awigra.
“Jadi gini loh, Pris, topik yang mau lu angkat di modul IV ini ya yang selama ini menjadi kegelisahan lu, yang mau lu perjuangkan, masalah hukum dan HAM-nya di mana itu nanti bisa dilihat lagi. Yang penting topiknya yang benar-benar mengganjal di hati lu. Kalo gw lihat ya mungkin lu bisa lebih fight di topik yang nomor dua itu. Karena ya lu sendiri mengalaminya, dan siapa tau itu menjadi hal yang menggelisahkan buat lu. Gw ngeliatnya lu mungkin akan bener-bener serius mendalaminya.”
Aku melihat topik nomor dua dari empat topik yang kudiskusikan bersama Awi. Pernikahan beda agama.

Namaku Priska Kalista. Aku seorang Katolik. Aku warga negara Indonesia. Aku banyak menghabiskan waktu untuk merenung. Jika semua umat beragama di dunia ini diciptakan untuk menyembah Tuhannya, mengapa harus ada lebih dari satu agama? Mengapa dunia bertengkar dan banyak di antaranya dilatarbelakangi oleh kepentingan agama? Mengapa agama menjadi alat untuk memecah belah manusia, bukan untuk menyatukan manusia dalam kesempurnaan Ilahi? Mengapa agama menjadi alasan yang sempurna untuk mengkotak-kotakkan masyarakat? Mengapa hukum agama lebih didewakan ketimbang hukum negara di negara yang jelas-jelas adalah negara hukum? Di balik semua pertanyaan itu, mengapa aku orang Indonesia???!!!

Panggil aku Priska. Aku seorang Katolik. Aku warga negara Indonesia. Aku banyak menghabiskan waktu untuk menangis. Aku anak yang patuh, tidak pernah melawan kata orang tua. Aku anak yang terpelajar, aku dididik secara Katolik dan pendidikan formalku sempurna. Aku rajin ke Gereja, walaupun terkadang bolos, itupun hanya terjadi tiga bulan sekali. Aku berusaha melakukan segala yang diajarkan Yesus. Aku belajar memaafkan orang lain. Aku berusaha menjadi garam dan terang dunia. Aku terjun kepada mereka yang membutuhkan, kaum marjinal. Aku semaksimal mungkin melaksanakan hukum cinta kasih. Tapi aku tetap menangis. Karena jika yang kuberikan kepada kekasihku adalah cinta kasih, mengapa harus dilarang???!!! Mengapa dipersulit? Mengapa tidak ada jalan? Mengapa harus menjadi bahan pembicaraan yang tabu dan menyedihkan di kalangan keluarga? Tidakkah aku punya hak untuk memilih siapa pun yang hendak bersanding denganku?

Aku adalah seorang yang jijik ketika melihat kenyataan bahwa pernikahan beda agama suatu hal yang dipermasalahkan di Indonesia, terutama dilihat dari segi hukum negara. Atas nama agama, perkawinan yang dilakukan antarinsan yang berbeda keyakinan itu pun ditentang dan dicap haram. Padahal kalau dipikir dengan akal sehat (akal sehat ya Pembaca, netral, jangan dibawa emosi), sekarang sudah tahun 2009, millennium ketiga, hidup di Indonesia lagi, yang notabene multikultur dan multiagama. Sudah sulit mencari pasangan yang seragam dengan kita. Memiliki pasangan yang seragam pun tidak menjamin suksesnya pernikahan. Lebih buruk lagi, Undang-Undang Pernikahan no. 1 tahun 1974 yang sudah uzur (sudah 35 tahun, lho!) alias tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang (dibaca baik-baik ya, Pemerintah!), menyatakan bahwa pernikahan sah jika dilakukan menurut hukum agama masing-masing dan dicatatkan. Sementara hukum tiap agama kan berbeda-beda. Jika demikian, proses pencatatannya pun menjadi masalah baru lagi. Masalah sah-tidak sahnya pernikahan dapat berujung pada anak yang lahir dari pernikahan tersebut. Jika pernikahan itu tidak sah menurut hukum, anak yang lahir pun anak yang tidak sah dan selanjutnya akan mendapat berbagai kesulitan hukum lainnya, seperti tidak keluarnya akta kelahiran. Tidak keluarnya akta kelahiran dapat berujung pada kemiskian struktural, sebagai contoh anak tersebut tidak dapat bersekolah karena tiap sekolah pasti meminta akta kelahiran calon siswa, selain itu jika nanti ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil, ia tidak mendapat tunjangan. Bukankah itu melukiskan betapa hukum pernikahan di Indonesia bertugas sebagai penyulit, bukan pemfasilitas bagi warga negaranya yang ingin melangsungkan pernikahan beda agama. Kita berbicara mengenai freedom of expression dan freedom of belief. Adalah hak bagi tiap orang untuk mengekspresikan hidupnya, salah satunya dengan melangsungkan pernikahan, termasuk jika itu adalah pernikahan beda agama. Dan kepercayaan manusia terhadap Tuhannya menjadi dipertaruhkan ketika berhadapan dengan pernikahan. Agama–atau lebih tepatnya Tuhan, menjadi hal yang murah demi sebuah pernikahan (jika harus mengorbankan keimanannya). Itulah negaramu, Priska!

Peraturan Pernikahan Beda Agama
Dalam UU no. 1 tahun 1974, pernikahan beda agama termasuk dalam perkawinan campuran. Peraturan perkawinan campuran mengacu pada Peraturan Perkawinan Campuran/Regeling op de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158 (GHR). Mengapa? Hal ini sesuai dengan pasal 66 UU Perkawinan yang menyatakan bahwa masalah pernikahan beda agama harus berpedoman kepada peraturan perkawinan campuran. Dan beberapa ketentuan tentang pernikahan beda agama pada GHR adalah sebagai berikut:
• Pasal 1:
Pelangsungan perkawinan antara orang-orang, yang di Hindia Belanda tunduk pada hukum yang berbeda, disebut perkawinan campuran.
• Pasal 6 ayat (1):
Perkawinan campuran dilangsungkan menurut hukum yang berlaku atas suaminya, kecuali izin para calon mitrakawin yang selalu disyaratkan.
• Pasal 7 ayat (2):
Perbedaan agama, golongan penduduk atau asal usul tidak dapat merupakan halangan pelangsungan perkawinan.
Beberapa pasal di atas secara tegas mengatur tentang pernikahan beda agama bahkan disebutkan bahwa perbedaan agama tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah terjadinya pernikahan.

Beberapa Pandangan Atas Pernikahan Beda Agama
UU no. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (khususnya jika berbicara mengenai pernikahan beda agama) adalah CACAT! Bagaimana mungkin dari sebuah Undang-Undang dapat mucul tiga interpretasi sekaligus dan semuanya berlainan? Mari kita lihat ketiga pandangan tersebut.
i. Pernikahan beda agama tidak dibenarkan dan merupakan pelanggaran terhadap undang-undang perkawinan berdasarkan pada pasal 2 ayat (1) dan pasal 8 huruf (f) yang dengan tegas menyebutkan hal itu. Oleh karena itu pernikahan beda agama adalah tidak sah dan batal demi hukum.
Adapun bunyi pasal 2 ayat 1 adalah “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.” Sementara bunyi pasal 8 huruf (f) adalah “Perkawinan dilarang antara dua orang yang: mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.”
ii. Pernikahan beda agama adalah diperbolehkan dan sah dan oleh sebab itu dapat dilangsungkan, sebab pernikahan tersebut termasuk dalam pernikahan campuran. Menurut pendapat ini, titik tekan pasal 57 UU Perkawinan terletak pada “dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan”. Oleh karena itu pasal tersebut tidak saja mengatur pernikahan antara dua orang yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda tetapi juga mengatur pernikahan antara dua orang yang berbeda agama. Menurut pendapat ini, pelaksanaan pernikahan beda agama dilakukan menurut tata cara yang diatur oleh pasal 6 Peraturan Perkawinan Campuran (yaitu menurut hukum yang berlaku atas suaminya).
iii. Undang-undang pernikahan tidak mengatur tentang masalah pernikahan beda agama. Oleh karena itu dengan merujuk pasal 66 Undang-undang Perkawinan, maka peraturan-peraturan lama selama Undang-undang Perkawinan belum mengaturnya dapat diberlakukan. Dengan demikian maka masalah pernikahan beda agama harus berpedoman kepada peraturan perkawinan campuran (seperti yang sudah diuraikan di atas).

Masalah: Fakta dan Analisis
Mari kita lihat satu demi satu masalah yang terjadi di bumi pertiwi ini. Masalah yang paling terlihat oleh mata kita adalah ada dua lembaga yang mencatatkan pernikahan, yaitu kantor catatan sipil bagi warga nonMuslim dan kantor urusan agama bagi warga Muslim. Pertanyaannya, mengapa ada dua? Mengapa tidak menyatu? Mengapa dibedakan? Mengapa pula terkesan bahwa pernikahan adalah urusan agama? Sejak kapan pernikahan menjadi urusan agama? Padahal, menurut pasal 34 ayat 2 dan ayat 4 UU no 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, institusi yang boleh mencatatkan pernikahan adalah kantor catatan sipil. Mengapa ada bias semacam ini?

Selanjutnya, karena pernikahan beda agama di Indonesia tidak sah, maka untuk mengakali hal tersebut ditembuh cara-cara ekstrem, seperti melalui lembaga-lembaga tertentu (Paramadina, ICRP, Wahid Institut) yang sebenarnya cara-cara yang dilakukan melanggar hukum. Sebut saja terjadi pembuatan dokumen-dokumen palsu dan terdapat “persekongkolan” antara pihak pemuka agama dan petugas catatan sipil. Biaya yang diperlukan pun jauh lebih tinggi. Mau yang mana? 10 juta, dilaksanakan menurut masing-masing agama, dokumen lengkap dan ngerti beres? Atau 4 juta, yang menikah menurut salah satu agama dulu sebelumnya, lalu agama satunya dengan trik-trik khusus? Seru ya! Bicara mengenai biaya, hal ini tentu tidak pro rakyat kecil.

Ah, atau mau yang lebih seru lagi? Menikah saja di luar negeri! Sekembalinya ke Indonesia langsung dicatatkan! Beres, rapi jail! Ckckck… Lucu ya Indonesia. Yang mampu melakukan ini? Banyak! Syarat: banyak duit, tabungan dollar, lebih bagus lagi kalau artis!

Lembaga-lembaga “penolong” yang kusebutkan di atas tadi, memiliki image sebagai dewa penolong bagi calon pasangan beda agama. Oleh karenanya, mereka diberi pelayanan terbaik (misalnya penginapan terbaik, semua biaya makan dan akomodasi ditanggung), plus “gaji” yang lumayan. Mereka sangat dihormati sebagai penemu jalan tengah di kondisi yang tak terselesaikan ini. Mereka memang sangat menghargai pluralisme dan memiliki alasan yang manusiawi di balik kegigihan mereka membantu calon pasangan beda agama. Alasan itu antara lain adalah demi mencegah hubungan seksual di luar nikah mengingat sudah lama berpacaran atau sudah sangat serius ingin melanjutkan hubungan ke tahap pernikahan. Alasan lain adalah karena tulus ingin membantu mengingat perlunya sebuah perubahan dalam negara ini. Namun sebuah hubungan baik antara penolong dan yang ditolong itu berhenti ketika akhirnya pasangan tersebut berhasil mengukuhkan cintanya dalam cara yang paling beradab, yakni pernikahan. Pasca pernikahan, pasangan-pasangan tadi “bersembunyi” dari penolongnya. Merasa sudah berhasil keluar dari masa sulit, mereka berusaha mempertahankan apa yang sudah mereka dapat, dan sebisa mungkin tidak berhubungan lagi dengan lembaga yang telah menolong mereka. Ironis? No comment.

Satu hal lagi yang kutemukan adalah kenyataan bahwa tidak ada satu teks agama pun yang secara tegas melarang pernikahan beda agama, kecuali interpretasi para pemuka agama. Dan dari kejadian-kejadian yang aku temukan, aku dapat menarik sebuah pola yang cukup menarik, yaitu institusi-institusi agama tidak memberikan ruang terhadap pernikahan beda agama dan undang-undang negara mengukuhkannya. Padahal pernikahan bukan merupakan ciptaan agama. Pernikahan sudah ada jauh sebelum agama ada. Pernikahan adalah domain pribadi tiap manusia. Agama juga domain pribadi tiap manusia. Keduanya walaupun berkaitan namun seharusnya bukan menjadi hal yang dicampuradukkan, khususnya jika berbicara mengenai konsteks hukum keduanya. Hal ini cukup dimengerti karena pernikahan adalah sesuatu yang begitu pentingnya, sehingga hukum negara, agama, bahkan adat serta tradisi tidak ketinggalan mengatur pernikahan ini. Yang terjadi di Indonesia adalah bentrokan ketika pernikahan dikaitkan dengan agama. Hak menikah melekat pada pribadi manusia, bukan melekat pada agamanya.

Pola berikutnya dapat kurangkai menjadi kalimat ini: adanya persaingan politik yang cukup tajam. Pertama, pernikahan dipakai sebagai alat penundukan, pembungkaman, serta kekerasan. Hal ini berkaitan erat dengan konsep patriarki di mana keluarga berpusat pada peran ayah sebagai kepala keluarga yang diharapkan dapat menularkan pengaruh agama ke istri dan anak-anaknya. Hm, bukankah itu terdengar sebagai pemaksaan agama? Di sini politik agama bermain. Agama manapun pasti ingin menyebarkan pengaruhnya seluas-luasnya. Dan keluarga adalah zona yang paling mudah dan paling dekat. Goyahnya iman seorang anggota keluarga karena pengaruh agama dari anggota keluarga yang lain menjadi kekuatan konsep patriarki ini.

Kedua, pada masa Orde Baru muncul politisasi identitas. Identitas itu dipakai untuk membangun kecurigaan dan ketakutan atas golongan yang berbeda. Hal ini tidak lain dan tidak bukan untuk memunculkan rasa kesetiaan ekstrem pada identitas masing-masing yang diharapkan dapat mendukung permainan politik negara. Misalnya saja, fanatisme berlebihan pada agamanya sehingga muncul propaganda terhadap kelompok-kelompok tertentu. Hal ini kemudian berimplikasi menciptakan mind set bahwa golongannyalah yang paling benar dan menolak mentah-mentah jika ada hubungan cinta apalagi perkawinan antara dua agama yang berbeda. Ketika saya menjadi kita, boleh ada hak-hak asasi kita yang dikurangi. Kasus di atas adalah contohnya. Walaupun pada dasarnya bersuara adalah salah satu hak asasi manusia (HAM), namun jika kita kemudian melakukan hal-hal yang negatif seperti propaganda terhadap golongan tertentu, maka negara wajib membatasi dan mengurangi propaganda tersebut, bukannya malah menciptakannya (seperti yang terjadi saat Orde Baru). Di sini dapat dilihat bahwa negara telah melakukan kejahatan.

Ketiga, ketika RUU Perkawinan dibuat, Muhammadiyah berpendapat RUU Perkawinan bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam dan ada pihak yang mengatakan bahwa RUU tersebut adalah kristenisasi terselubung. Pertentangan RUU Perkawinan dengan hukum Islam antara lain pembatasan jumlah istri, sahnya perkawinan, perkawinan beda agama, dan masa iddah. Mereka juga berpendapat bahwa perkawinan adalah masalah agama dan karena agama mayoritas adalah Islam maka wajar jika ketentuan Islam menjadi dasar dari UU Perkawinan. Masalah kristenisasi muncul karena RUU Perkawinan sedikit banyak mengacu pada hukum pernikahan Belanda. Ketika pemerintah tidak memperhatikan protes kaum Islam terhadap RUU Perkawinan dan hasilnya UU Perkawinan tidak mengatur secara eksplisit (expressis verbis) mengenai pernikahan beda agama, terlihat jelas bahwa UU Perkawinan adalah hasil kompromi negara terhadap agama. Ada masalah mengenai bagaimana mengelola tuntutan mayoritas dan menempatkan minoritas. Padahal dalam konsep hak asasi manusia, tidak boleh ada pengutamaan kelompok mayoritas. Pengutamaan kelompok mayoritas dapat dikatakan sebagai diskriminasi, padahal hak asasi manusia melarang diskriminasi apa pun berdasarkan latar belakang apa pun.

Keempat, pernikahan beda agama memunculkan masalah pendidikan (agama) anak yang terancam. Seperti yang kita ketahui, beberapa konsep yang ada di masyarakat adalah:
• Katolik yang menekankan bahwa anak-anaknya harus dididik secara Katolik
• Konsep patriarki yang menyatakan bahwa kepala keluarga dapat menularkan agamanya ke istri dan anak-anaknya
• Konsep bahwa anak akan lebih dekat ke ibu sehinga agama anak akan sama dengan agama ibu
• Selanjutnya, muncul kekhawatiran bahwa anak akan memiliki 2 agama, yaitu agama menurut yang diajarkan di rumah dan agama yang diajarkan di sekolah

Kelima, tahun 1987 pemerintah mengangkat beberapa pemuka agama (Godsdientvoorganger) yaitu Pendeta/Pastor, untuk bertindak atas nama pemerintah, dengan sebutan Pembantu Pegawai Pencatat Perkawinan. Hal ini cukup membantu dalam pencatatan sipil jika petugas pencatat perkawinan itu adalah warga gereja atau pendeta. Namun sejak tahun 1995 ada kecenderungan dan khususnya di Jakarta untuk tidak lagi memberikan peluang bagi Pemuka Agama untuk menjadi Pembantu Pegawai Pencatatan Perkawinan.

Kelima kejadian-kejadian yang sudah diuraikan kurasa cukup jelas menggambarkan yang terjadi di belakang isu pernikahan beda agama adalah sungguh permainan politik yang lihai dan tajam. Unsur politisasi juga terlihat dengan tidak diakuinya pernikahan beda agama oleh negara dengan alasan bahwa terdapat perbedaan antara hukum negara dengan hukum agama. Perlu dicatat bahwa hukum negara tidak sesuai dengan hak privat warga negara. Pertentangan pernikahan beda agama selalu dikaitkan dengan UU Perkawinan. Padahal undang-undang bukan hukum. Bukan juga hasil kompromi setiap warga negara. Undang-undang dibuat oleh negara, pemerintah, dan DPR. Sehingga seharusnya undang-undang melingkupi setiap kepentingan warganya.

Terakhir, pola yang paling besar dan yang paling mengganggu pikiranku adalah kenyataan bahwa UU Perkawinan bertentangan dengan hak asasi manusia. Menikah adalah hak setiap orang dan negara wajib melindunginya. Penjelasan lebih lanjut adalah seperti ini. Pernikahan adalah domain pribadi setiap manusia. Dan negara berkewajiban untuk mencatatkan, bukan mengesahkan seperti yang terjadi di Indonesia melalui UU Perkawinan yang tidak sempurna itu. Dengan tugas negara untuk mencatatkan, maka konsekuensi yang didapat warga negaranya adalah adanya pengakuan status hukum atas pernikahan mereka. Hal ini sesuai dengan pasal 23 konvenan internasional hak-hak sipil dan politik yang telah disahkan melalui UU no 12 tahun 2005 tentang Pengesahan International Convenant on Civil and Political Rights, juga ditegaskan dalam pasal 16 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Pada dasarnya, semua umat beragama mempunyai hak dari agamanya untuk mendapatkan pelayanan agamanya, salah satunya adalah pernikahan. Hak ini juga termasuk hak asasi manusia, lho. Namun hal ini menjadi halangan jika agama tidak mentolerir pernikahan beda agama. Kadang aku berpikir, ya sudah mbok ya agama itu satu aja, nggak usah banyak-banyak! Wong intinya sama kan? Memuja sesuatu yang memiliki kuasa dan kekuatan melebihi manusia, demi ketenangan di akhirat nanti. Memangnya Tuhan menilai manusia dari agamanya? Enggak kan? Tuhan menilai manusia dari perbuatannya.

Berikutnya, sudah menjadi jalan keluar yang default bahwa salah satu jalan keluar dari pernikahan beda agama adalah salah satu pasangan pindah agama mengikuti pasangannya. Ya kalau rela. Kalau tidak? Bagi mereka yang agamanya tidak tercantum sebagai agama yang diakui negara, mereka pun harus melembagakan diri menurut salah satu agama. Hal ini jelas melanggar pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kebebasan setiap orang untuk beragama. Lucu lagi, kan? Kalau aku jadi Tuhan, aku akan merasa terhina sekali! Karena harga ke-Ilahi-anku cuma seharga nafsu jasmani. Atau lebih tepatnya lagi, cuma seharga Rp100.000 sebagai biaya membuat KTP baru dengan agama yang baru.

Situasi pernikahan beda agama di Indonesia yang dipersulit negara adalah suatu bentuk pelanggaran HAM negara terhadap warganya. Pertama, karena negara melanggar dengan membuat keputusan yang plin-plan (ketidakjelasan UU Perkawinan mengenai pernikahan beda agama). Kedua, karena negara melanggar dengan pengabaian masalah ini. Negara tidak melakukan sesuatu yang mendukung, menjamin, melindungi, dan memfasilitasi pernikahan beda agama. Sikap yang dapat kita ambil adalah dengan terus mengkritisi UU Perkawinan. Masalah akan semakin banyak muncul dan tak terselesaikan jika kita diam saja melihat ketidakbenaran ini. Mundurnya sebuah kekuatan hukum yang menyangkut hak asasi manusia seperti pernikahan dapat menjadi masalah negara yang besar jika tak ditanggapi dengan kritis.

To love another person is to see the face of God.
Bukankah dengan mencintai seseorang aku turut mencintai Penciptaku? Bukankah dengan mencintai seseorang aku ikut menebar cinta kasih seperti yang diajarkan Yesus? Bukankah setiap kali aku melihat seseorang yang kucintai, aku juga melihat hasil karya Tuhan yang penuh cinta? Mengapa aku mendapat masalah di negeri ini hanya karena mencintai seseorang?

—o—

Bahan bacaan:
Anshor, Maria Ulfah & Martin Lukito Sinaga (ed.). 2004. Tafsir Ulang Perkawinan Lintas Agama Perspektif Perempuan dan Pluralisme. Jakarta: KAPAL Perempuan.

Davidson, Scott. 1994. Hak Asasi Manusia. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

Go, Piet & Suharto. 1990. Kawin Campur Beda Agama dan Beda Gereja. Malang: Penerbit Dioma.

Suhadi. 2006. Kawin Lintas Agama Perspektif Kritik Nalar Islam. Yogyakarta: LKiS.

Published in:  on at 5:19 am Comments (5)

PERNIKAHAN BEDA AGAMA

1. PENDAHULUAN

Pernikahan pada dasarnya adalah sebuah usaha atas kebutuhan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya dalam sebuah ikatan cinta yang sah antara seorang pria dan seorang wanita. Begitu pentingnya pernikahan ini maka hukum, agama, bahkan adat serta tradisi tidak ketinggalan mengatur pernikahan ini.

Indonesia adalah negara multikultur dan multiagama. Pernikahan yang terjadi di masyarakat pun tidak selamanya seragam. Banyak terjadi pernikahan beda agama di Indonesia. Namun kasus ini menjadi halangan tersendiri karena pernikahan beda agama dipersulit secara hukum. Padahal, dengan semakin berkembangnya zaman, sudah sulit untuk mencari pasangan yang seragam dengan kita. Memiliki pasangan yang seragam pun tidak menjamin suksesnya pernikahan.

Hukum pernikahan di Indonesia seakan menyulitkan, bukan memfasilitasi warga negaranya yang ingin melangsungkan pernikahan beda agama. UU Perkawinan menyatakan bahwa pernikahan sah jika dilakukan menurut hukum agama masing-masing dan dicatatkan. Sementara hukum tiap agama berbeda-beda. Jika demikian, proses pencatatannya pun menjadi masalah baru lagi.

Freedom of expression dan freedom of belief menjadi di ujung tanduk ketika UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan tidak juga mengalami amandemen. Revisi belum juga dilakukan padahal usia UU Perkawinan itu sudah berusia 35 tahun. Masalah sah-tidak sahnya pernikahan dapat berujung pada anak yang lahir dari pernikahan tersebut. Jika pernikahan itu tidak sah menurut hukum, anak yang lahir pun anak yang tidak sah dan selanjutnya akan mendapat berbagai kesulitan hukum lainnya, seperti tidak keluarnya akta kelahiran, dan lain-lain.

2. TUJUAN

Tujuan pembuatan paper ini adalah untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang melanggar HAM warga negaranya untuk bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah secara hukum.

3. PERATURAN PERNIKAHAN BEDA AGAMA

Dalam UU no 1 tahun 1974, pernikahan beda agama termasuk dalam perkawinan campuran. Peraturan perkawinan campuran mengacu pada Peraturan Perkawinan Campuran/Regeling op de Gemengde Huwelijken, Staatsblad 1898 Nomor 158 (GHR). Dan beberapa ketentuan tentang pernikahan beda agama pada GHR adalah sebagai berikut:

  • Pasal 1:

Pelangsungan perkawinan antara orang-orang, yang di Hindia Belanda tunduk pada hukum yang berbeda,     disebut perkawinan campuran.

  • Pasal 6 ayat (1):

Perkawinan campuran dilangsungkan menurut hukum yang berlaku atas suaminya, kecuali izin      para calon mitrakawin yang selalu disyaratkan.

  • Pasal 7 ayat (2):

Perbedaan agama, golongan penduduk atau asal usul tidak dapat merupakan halangan pelangsungan perkawinan.

Beberapa pasal di atas secara tegas mengatur tentang pernikahan beda agama bahkan disebutkan bahwa perbedaan agama tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah terjadinya pernikahan.

4. BEBERAPA PANDANGAN ATAS PERNIKAHAN BEDA AGAMA

  1. Pernikahan beda agama tidak dibenarkan dan merupakan pelanggaran terhadap undang-undang perkawinan berdasarkan pada pasal 2 ayat (1) dan pasal 8 huruf (f) yang dengan tegas menyebutkan hal itu. Oleh karena itu pernikahan beda agama adalah tidak sah dan batal demi hukum.
  2. Pernikahan beda agama adalah diperbolehkan dan sah dan oleh sebab itu dapat dilangsungkan, sebab pernikahan tersebut termasuk dalam pernikahan campuran. Menurut pendapat ini titik tekan pasal 57 tentang perkawinan campuran terletak pada “dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan”. Oleh karena itu pasal tersebut tidak saja mengatur pernikahan antara dua orang yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda tetapi juga mengatur pernikahan antara dua orang yang berbeda agama. Menurut pendapat ini pelaksanaan pernikahan beda agama dilakukan menurut tata cara yang diatur oleh pasal 6 Peraturan Perkawinan Campuran.
  3. Undang-undang pernikahan tidak mengatur tentang masalah pernikahan beda agama. Oleh karena itu dengan merujuk pasal 66 Undang-undang Perkawinan, maka peraturan-peraturan lama selama Undang-undang Perkawinan belum mengaturnya dapat diberlakukan. Dengan demikian maka masalah pernikahan beda agama harus berpedoman kepada peraturan perkawinan campuran.

5. POLA PERMASALAHAN

Pola permasalahan yang muncul dalam ruang pernikahan beda agama adalah:

  1. Institusi-institusi agama tidak memberikan ruang terhadap pernikahan beda agama dan UU negara mengukuhkannya. Padahal pernikahan bukan merupakan ciptaan agama. Pernikahan sudah ada jauh sebelum agama ada. Beberapa event yang ditemukan adalah:
    • Terjadi bias mengenai pencatatan pernikahan. Ada kantor catatan sipil dan kantor urusan agama.   Pertanyaannya adalah mengapa harus dibedakan? Sedangkan menurut pasal 34 ayat 2 dan ayat 4 UU no 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, institusi yang boleh mencatatnkan pernikahan adalah kantor catatan sipil.
    • Pernikahan beda agama di Indonesia tidak sah. Maka untuk mengakali hal tersebut ditembuh cara-cara ekstrem, seperti melalui lembaga-lembaga tertentu (Paramadina, ICRP, Wahid Institut) yang sebenarnya cara-cara tersebut melanggar hukum. Biaya yang diperlukan pun jauh lebih tinggi. Hal ini tentu tidak pro rakyat kecil.
    • Salah satu cara untuk mengakali pernikahan beda agama adalah dengan menikah di luar negeri. Namun hal ini pun juga tidak pro rakyat kecil.
    • Tidak ada satu teks agama pun yang secara tegas melarang pernikahan beda agama, kecuali interpretasi para pemuka agama.
  2. Adanya persaingan politik yang cukup tajam. Event yang muncul di antaranya:
    • Pernikahan dipakai sebagai alat penundukan, pembungkaman, serta kekerasan. Hal ini berkaitan erat dengan konsep patriarki di mana keluarga berpusat pada peran ayah sebagai kepala keluarga yang diharapkan dapat menularkan pengaruh agama ke istri dan anak-anaknya.
    • Pada masa Orde Baru muncul politisasi identitas. Identitas itu dipakai untuk membangun kecurigaan dan ketakutan atas golongan yang berbeda. Hal ini untuk memunculkan rasa kesetiaan ekstrem pada identitas masing-masing yang diharapkan dapat mendukung permainan politik negara.
    • Ketika RUU Perkawinan dibuat, Muhammadiyah berpendapat RUU Perkawinan bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam dan ada pihak yang mengatakan bahwa RUU tersebut adalah kristenisasi terselubung.
    • Pernikahan beda agama memunculkan masalah pendidikan (agama) anak yang terancam. Beberapa konsep yang ada di masyarakat:
      • Katolik yang menekankan bahwa anak-anaknya harus dididik secara Katolik
      • Konsep patriarki yang menyatakan bahwa kepala keluarga dapat menularkan agamnya ke istri dan anak-anaknya
      • Konsep bahwa anak akan lebih dekat ke ibu sehinga agama anak akan sama dengan agama ibu
      • Anak akan memiliki 2 agama, yaitu agama menurut yang diajarkan di rumah dan agama yang diajarkan di sekolah
    • Tidak lagi memberikan peluang bagi Pemuka Agama untuk memjadi Pembantu Pegawai Pencatatan Pernikahan
  3. Pola permasalahan berikutnya adalah UU Perkawinan bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Event-event yang ada:
    1. Menikah adalah hak setiap orang dan negara wajib melindunginya.
    2. Salah satu jalan keluar dari pernikahan beda agama adalah salah satu pasangan pindah agama mengikuti pasangannya. Bagi mereka yang agamanya tidak tercantum sebagai agama yang diakui negara, mereka pun harus melembagakan diri menurut salah satu agama. Hal ini jelas melanggar pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kebebasan setiap orang untuk beragama.
    3. Semua umat beragama mempunyai hak dari agamanya untuk mendapatkan pelayanan agamanya, salah satunya adalah pernikahan. Namun hal ini menjadi halangan jika agama tidak mentolerir pernikahan beda agama.
  4. Ketika itu terjadi pro dan kontra terhadap RUU Perkawinan sehingga adalah kompromi negara terhadap agama. Event yang ditemukan adalah:
    1. RUU Perkawinan sedikit banyak mengacu pada hukum pernikahan Belanda. Maka pernah muncul anggapan bahwa RUU Perkawinan disinyalir kristenisasi.
    2. Pemerintah tidak memperhatikan protes kaum Islam terhadap RUU Perkawinan.
    3. UU Perkawinan tidak mengatur secara eksplisit (expressis verbis) mengenai pernikahan beda agama.

6. KAJIAN HUKUM DAN HAM

Pernikahan adalah domain pribadi setiap manusia. Dan negara berkewajiban untuk mencatatkan, bukan mengesahkan seperti yang terjadi di Indonesia melalui UU Perkawinan yang tidak sempurna itu. Dengan tugas negara untuk mencatatkan, maka konsekuensi yang didapat warga negaranya adalah adanya pengakuan status hukum atas pernikahan mereka. Hal ini sesuai dengan pasal 23 konvenan internasional hak-hak sipil dan politik yang telah disahkan melalui UU no 12 tahun 2005 tentang Pengesahan International Convenant on Civil and Political Rights, juga ditegaskan dalam pasal 16 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Bentrokan yang terjadi di Indonesia adalah ketika pernikahan dikaitkan dengan agama. Padahal agama pun juga domain pribadi tiap menusia. Hak menika melekat pada pribadi manusia, bukan melekat pada agamanya. Masalah muncul ketika negara berbentrokan kelompok-kelompok masyarakat. Ada masalah mengenai baaimana mengelola tuntutan mayoritas dan menempatkan minoritas. Padahal dalam HAM, tidak boleh ada pengutamaan kelompok mayoritas.

Situasi pernikahan beda agama di Indonesia yang dipersulit negara adalah suatu bentuk pelanggaran HAM negara terhadap warganya. Pertama, karena negara melanggar dengan membuat keputusan yang plin-plan (ketidakjelasan UU Perkawinan mengenai pernikahan beda agama). Kedua, karena negara melanggar dengan pengabaian masalah ini. Negara tidak melakukan sesuatu yang mendukung, menjamin, melindungi, dan memfasilitasi pernikahan beda agama.

Berdasarkan pola-pola permasalahan yang ditemukan, terlihat permainan politik yang sengaja memasukkan unsur politisasi identitas (salah satunya agama). Ini merupakan propaganda terhadap kelompok-kelompok tertentu. Maka seharusnya dalam hal ini negara membatasi, mengurangi propaganda tersebut, bukannya menciptakan (seperti yang terjadi saat Orde Baru). Di sini dapat dilihat bahwa negara telah melakukan kejahatan.

Unsur politisasi juga terlihat dengan tidak diakuinya pernikahan beda agama oleh negara dengan alasan bahwa terdapat perbedaan antara hukum negara dengan hukum agama. Perlu dicatat bahwa hukum negara tidak sesuai dengan hak privat warga negara. Pertentangan pernikahan beda agama selalu dikaitkan dengan UU Perkawinan. Padahal undang-undang bukan hukum. Bukan juga hasil kompromi setiap warga negara. Undang-undang dibuat oleh negara, pemerintah, dan DPR. Sehingga seharusnya undang-undang melingkupi setiap kepentingan warganya.

7. KESIMPULAN

Berangkat dari event dan pola, maka dalam kajian pernikahan beda agama ini dapat dibuat suatu struktur permasalahan, yaitu:

Pemerintah melakukan pelanggaran HAM dengan membuat hukum pernikahan yang merupakan salah satu bentuk politisasi agama yang mengakibatkan hak warga negara untuk menikah beda agama terlanggar.

Published in:  on August 20, 2009 at 6:00 am Comments (3)

Protected: Transformasi Minat: Sains, Musik, Sosial

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Published in:  on July 27, 2009 at 7:40 am Enter your password to view comments

Website Free Piano Sheet

Published in:  on June 18, 2009 at 9:41 am Leave a Comment

FACEBOOK SI POPULER DAN TEMAN-TEMANNYA SI PEMBERI KENIKMATAN MAYA

Dengan langkah mantab namun bosan karena sudah setiap hari melewati rute yang sama, saya melangkah menuju ruang lab komputer 07, ruang lab favorit saya. Melihat ke kanan dan ke kiri mencari komputer yang kosong, hingga akhirnya menemukan sebuah komputer yang dapat saya pakai. Sambil menunggu loading login, saya melihat sekeliling dan menyapa teman-teman saya. Ada yang sedang mengerjakan tugas, ada pula yang sedang browsing di berbagai situs. Meebo, Facebook, Plurk, Looklet, WordPress, menjadi “pelarian” wajib bagi kami mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI).

Pernah suatu kali seisi lab heboh dan saling berteriak, “Buruan comment, biar rame!” Ternyata ada seorang teman yang mem-post­ sesuatu yang kontroversi di ­wall Facebook-nya dan seisi lab kemudian berlomba-lomba memberikan comment­-nya sehingga halaman utama situs tersebut menjadi ramai dan penuh akibat “comment sampah” itu. Bahkan di Fasilkom Award tahun ini ada kategori Mahasiswa Ter-Facebook. Tentu saja kategori itu muncul bukan lagi karena situs tersebut menjadi booming, namun karena Facebook itu sendiri telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi saya dan teman-teman. Berbagi informasi bukan lewat sms atau percakapan langsung, tetapi melalui situs jejaring sosial tersebut. Gosip tersebar lewat Facebook, foto di-share­ lewat Facebook, bahkan mengetahui pribadi seseorang pun juga lewat Facebook. Pemenang Mahasiswa Ter-Facebook pun adalah seorang teman saya yang memang tergila-gila Facebook, dengan status yang selalu up to date, foto yang selalu berubah setiap harinya, dan rajin menulis notes yang “menyebarluaskan” informasi mengenai dirinya.

Facebook merugikan kampus saya. Hal ini didukung karena (1)situs-situs ilmiah tidak laku, mahasiswa memilih untuk membuka Facebook ketimbang situs-situs ilmiah yang mendukung kegiatan belajar-mengajar mereka, (2)UI mengadopsi hasil penelitian di Amerika yang menyatakan bahwa pemilik akun Facebook cenderung memiliki prestasi yang kurang ketimbang mereka yang memiliki akun Facebook, (3)akses Internet di lingkungan kampus UI menjadi lambat karena pengguna Facebook memakan banyak bandwidth. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan akses ke Facebook dan Frienster dilarang sejak Jumat, 15 Mei 2009. Ketika akses ke Facebook dan friendster di-banned oleh UI, saya dan teman-teman mencari-cari altenatif proxy lain agar tetap bisa mengakses situs tersebut. Bahkan mencari IP (Internet Protocol) dari situs-situs tersebut dan melakukan cara “pintar” agar larangan tersebut tidak mengganggu kegiatan Facebook. Jika banyak tugas dan mendekati deadline sekalipun, teman-teman saya tetap membuka Facebook dan jangan sampai ada hari tanpa membuka Facebook. Dari sini saja dapat dilihat suatu akibat negatif, yaitu menomorsatukan Facebook ketimbang pekerjaan utama. Saya kerap bertanya-tanya sendiri, mengapa pengaruh yang ditimbulkan dari Facebook sedemikian besarnya sehingga orang menjadi “mati gaya”, malas online ketika tidak bisa mengaksesnya, padahal ada banyak pekerjaan utama yang harus diselesaikan.

Di satu sisi, kegandrungan terhadap Facebook dan beberapa situs sosial lainnya membuat hidup lebih mudah karena dapat mengatasi perbedaan jarak dan waktu, dapat mempertemukan kembali teman lama dan dapat memulai persahabatan dengan teman baru. Tidak jarang juga muncul benih-benih cinta karena Facebook. Namun saya prihatin jika batas-batas privasi menjadi tidak jelas, menimbulkan ketergantungan, dan memunculkan dunia sendiri yang terpisah dari dunia nyata. Yang kerap terjadi adalah beberapa orang terlihat sangat akrab dan dekat karena sering berkomunikasi lewat Facebook, namun di dunia nyata mereka tidak pernah bertegur sapa. Fenomena asik sendiri, tertawa terbahak-bahak karena “terhibur” dengan hiburan maya menjadi keprihatinan saya.

Masyarakat dibuat menjadi individual dengan hadirnya situs jejaring sosial. Dari luar, mereka tampak menjanjikan dengan berbagai keunggulan, namun jika saya merenung, mengapa manusia dibuat menjadi semakin jauh satu sama lain? Daripada bertatap muka, lebih senang via messenger. Apakah terjadi suatu keputusasaan dalam diri setiap orang, khususnya warga perkotaan, sehingga mereka merasa sendirian dalam hiruk pikuk kota? Mengapa harus membuat pelarian dengan menulis notes secara gamblang, menggembar-gemborkan perasaan pribadinya lewat blog, menulis comment yang menghebohkan, apakah ini adalah suatu fenomena di mana setiap orang kini merasa sendirian, terasing, dan butuh perhatian? Apakah karena dimensi sosial kini telah memudar, maka manusia mencari cara lain untuk tetap diperhatikan oleh sesama? Namun ironisnya cara tersebut adalah cara yang tidak berwujud, maya, dan tidak konkrit. Susahkah pada zaman kini untuk mengumpulkan manusia, sehingga jalan pintas ditempuh, yakni dengan membuat group di Facebook, membuat beberapa event yang acaranya sebenarnya tidak penting, bahkan diciptakan sebuah teknologi untuk berkomunikasi langsung tanpa bertatap muka yaitu messenger?

Ketika privasi terganggu, siapa yang hendak disalahkan? Ketika batas-batas antara hal yang bersifat pribadi dengan hal yang bersifat umum sudah mulai luntur, maka tidak jarang terjadi salah persepsi. Apakah yang tertulis di situs sosial adalah hal yang sebenarnya? Apakah yang tertulis adalah sesuatu yang terbaru? Jika bukan, maka informasi yang tertera adalah informasi yang salah. Dan jika hal itu terjadi, sangat mudah cap-cap negatif muncul. Dan saat seseorang marah karena privasinya dilanggar, bukan salah orang lain karena ia menjual dirinya demi ketenaran, keeksisan, dan pengakuan sosial. Salah persepsi juga muncul ketika terjadi pergolakan sosial dalam Negara. Pemanfaatan media dapat dengan mudah menjadi sarana black campaign. Facebook menjadi ajang konspirasi politik. Kembali lagi ke pertanyaan awal. Apakah informasi-informasi itu benar? Semua menjadi anonim karena kita tidak tahu siapa, mengapa, dan bagaimana. Hati saya sungguh sangat berat melihat adanya pihak-pihak yang memanfaatkan budaya menjadi ajang mencari uang, mencari ketenaran, bahkan mencari kekuasaan. Dan ketika medan kesadaran diperebutkan, banyak yang tidak menyadari bahwa ia sudah menjadi komoditas. Bahkan ia senang dikontrol.

Bagaimana dengan budaya-budaya lain? Sebut saja klub-klub yang mengatasnamakan hobi dan media televisi. Saya pun melihat adanya budaya ikut-ikutan. Teman yang satu ikut klub motor, maka teman yang lain juga ikut. Teman satu klub ikut turing ke luar kota, teman yang lain juga tak mau kalah. Teman yang satu sedang hobi menonton acara musik di televisi, maka teman yang lain ikut menonton agar tidak ketinggalan. Keeksisan diri diperoleh lewat aktif tidaknya seseorang menulis blog, berpartisipasi dalam klub, dan kegemaran mengutak-utik Facebook. Namun jika ditelaah lagi, saya melihat bahwa dalam klub tersebut praktis hanya ada kepentingan pribadi anggota-anggotanya. Apakah pernah kelompok-kelompok hobi tersebut berkumpul karena ada bakti sosial, atau membantu korban bencana? Jika mereka selalu berdalih bahwa dengan menjadi anggota sebuah klub maka akan memperluas pergaulan, maka menurut saya yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka “bermain” dengan kelompoknya sendiri, tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya, sehingga pergaulan mereka menjadi sempit, karena bertemu dengan orang-orang yang sama dengan dirinya sendiri. Tidak ada variasi dalam pembicaraan mereka. Sebuah klub yang sudah berkembang besar, memiliki struktur organisasi yang jelas, mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, kerap identik dengan apa yang disebut mementingkan diri sendiri. Di sini saya menjadi prihatin karena masyarakat menjadi terkotak-kotak, tidak adanya relasi yang lebih luas dengan sesamanya, menutup diri terhadap lingkungan sekitar, menjadi miskin pergaulan, bahkan tidak dipungkiri terjadi bentrokan antarmasyarakat.

Salah presepsi juga muncul pada klub-klub hobi. Karena mereka mengeksklusifkan kelompoknya, muncul anggapan-anggapan negatif dari masyarakat. Sebut saja klub motor. Dari sekian banyak teman yang saya tanyai, mereka semua membenci klub motor. Asalannya identik, klub motor itu “belagu”, menyusahkan pengguna jalan raya yang lain, dan suka main aturan sendiri. Namun dari hasil pengamatan dan oservasi saya, sebenarnya ada aturan-aturan yang baik adanya, menguntungkan pihak klub namun juga tidak merugikan masyarakat. Kesalahpahaman menjadi masalah utama dalam hidup berdampingan dengan warga lain di luar klub. Dan hal inilah yang paling sulit diatasi, karena susah sekali untuk memberikan pengertian antarkeduabelah pihak.

Televisi pun menjadi gambaran betapa manusia sekarang menderita akibat penyakit baru, yakni kesepian. Manusia meninggalkan kerjaannya di dapur, meja belajar, meja kerja, hanya untuk “nongkrong” di depan televisi, atau membawa pekerjaannya ke depan televisi, demi memperoleh sesuatu yang dapat menemani kegiatan mereka. Banyak yang bercerita kepada saya bahwa mereka membiarkan televisi menyala tanpa ada yang menonton. Ketika saya bertanya mengapa, mereka menjawab, “Ya enak rasanya, jadi berasa ada yang nemenin.” Bukankah ini harusnya sudah menjadi keprihatinan kita semua?

Susahnya membedakan dunia nyata dengan dunia lain yang bersifat maya dan hobi membuat manusia menjadi kehilangan jati dirinya. Ia tidak lagi memiliki posisi tawar. Ia tidak dapat membedakan dirinya ketika sedang berhadapan dengan realita hidupnya dan ketika harus menjadi diri yang berbeda di hidupnya yang lain (di Facebook, di klub hobi, dll). Inilah cikal bakal penurunan mutu hidup seseorang. Banyak yang kemudian menjadi bermuka dua, memiliki dua kehidupan, dan akhirnya terjebak di tengah-tengah karena batas antar keduanya sudah mulai memudar. Saat itu terjadi, menyedihkan sekali rasanya jika ia kehilangan dirinya yang sebenarnya. Sebegitukah akibat-akibat yang ditimbulkan sehingga jiwa seseorang menjadi taruhannya? Menyukai suatu hal secara berlebihan dapat membawa dampak negatif pada kehidupan nyata. Prestasi yang menurun, hilangnya kesadaran untuk bersosialisasi, tekanan dari lingkungan sekitar, adalah contoh akibat negatif dari apa yang dulunya dianggap adalah budaya yang membawa perubahan.

Pernah dengar? Ada sebuah akun group anti-Facebook di Facebook. Lah, ini kan lucu! (PRK)

Published in:  on June 15, 2009 at 4:50 am Leave a Comment

Selamat Hari Kebangkitan Nasional

~yang sepertinya sudah banyak dilupakan…

Published in:  on May 20, 2009 at 8:43 am Leave a Comment

Kisah Hati Yang Berbulu

Howdy,

Sebuah kisah dari Tales of Beedle the Bard: Kisah Penyihir Berhati Berbulu

Alkisah ada seorang penyihir muda yang tampan, kaya dan berbakat yang tidak begitu percaya dengan cinta dan menganggap bodoh orang-orang yang sedang jatuh cinta, terlebih mereka yang sedang jatuh cinta tindakannya juga sering aneh-aneh dan bodoh. (tapi bukankah semua orang memang begitu ya, kalo sedang jatuh cinta?..hehehhhe..)

Maka dengan kekuatan sihir hitamnya, dia “berlindung” untuk tidak jatuh cinta dan meletakkan hatinya dalam sebuah kotak sehingga dia tidak bisa merasakan apapun yang berhubungan dengan rasa terhadap orang lain, termasuk saat orang tuanya meninggalpun dia tidak merasa sedih sedikitpun.

Sampai pada akhirnya dia dipertemukan dengan seorang gadis jelita, namun karena dia tidak memiliki hati maka dia hanya ingin memanfaatkan si gadis untuk membuktikan pada orang-orang bahwa dia bisa memikat gadis dan akan menikah dengannya.

Si gadis yang baik hati, melihat ada yang janggal dengan penyihir itu lalu
diapun bertanya: ” Bicaramu sangat baik, Penyihir, dan aku akan sangat senang menerima semua perhatianmu, jika saja aku yakin kau punya hati!” (hal. 77).

Lalu si Penyihir mengajak gadis itu untuk mengikutinya untuk menunjukkan hatinya yang terdapat dalam sebuah kotak kristal ajaib, dan hati itu masih berdetak! Karena lama tidak pernah merasakan apa-apa, hati itu sudah menyusut dan tertutupi bulu-bulu hitam dan panjang. Dan karena ingin membuktikan bahwa dia punya hati, maka diapun memainkan sihirnya kemudian memasukkan kembali hati itu ke dalam tubuhnya.

Karena hati itu begitu lama terkurung dalam kotak, dia ibarat harimau lapar yang dilepas dari kandang. Dan apakah yang terjadi? Akhirnya dia menjadi buas dan merobek-robek dada si gadis hingga dia tewas. Setelah itu dia menggenggam hati yang besar, halus dan mengilap dan bersumpah ingin mengganti hatinya dengan hati si gadis.

Tapi ternyata, kekuatan sihirnya tidak mampu melawan hatinya sendiri yang telah terlanjur melekat di tubuhnya. Akhirnya dengan marah dia membuang tongkat sihirnya dan mengambil belati kemudian merobek sendiri dadanya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Diapun akhirnya tewas sambil memegang dua hati, dan ilmu sihirnya tak kuasa memberinya kekebalan pada tubuhnya sendiri.

Ada apa sampai saya menuliskan postingan ini?

Merasa bahwa hidup ini hanyalah sekali, tak pelak dari segala kesalahan2 yg ada. Perbuatan buruk, jahat, dosa, kesalahan, pasti pernah saya lakukan. Sebuah penantian panjang akan adanya pengampunan dari Yang Di Atas. Ah tapi bagaimana mungkin? Meminta pengampunan untuk diri sendiri saja belum bisa… Ketika seseorang menjadi manusia yang tidak bisa memaafkan diri sendiri, saat itulah ketika dia menjadi hancur, remuk, hilang arah, dan tidak ada sesuatu untuk berpegang dalam hidupnya. Saya tidak bisa memaafkan diri saya… Dan saya tidak tahu harus berpegang pada apa maupun siapa.

Penyesalan selalu datang terlambat. Lebih2 lagi, penyesalan, rasa sakit, selalu datang dengan cara yang aneh. Hilangnya pun aneh. Rasa itu tidak akan pernah selamanya hilang. Masih ada sisanya, bekasnya. Hal yang bisa terjadi adalah membuatnya menjadi lebih baik. Ya, rasa itu bisa berangsung membaik walaupun sakitnya tak akan pernah lenyap.

Apakah benar hati saya juga berbulu? Jika tidak pun, apakah benar bahwa saya mampu merobek hati orang lain dan mati karena hati saya menjadi buas?

Betapa mudahnya orang berkata, “maafkan aku”… Jika saja mereka sadar bahwa penyesalan tidak bisa diungkapkan dengan kata2…

Jika saja…

Published in:  on May 15, 2009 at 4:57 am Leave a Comment

List Bar, Club, Lounge, Diskotik di Jakarta

1-9

1001 Club
Jl. Hayam Wuruk 108 Hayam Wuruk Plaza I Lt 4, Jakarta 11180 ,
Tel.: (62)(21) 6264567

A

AB Club
Jl. Sunan Kalijaga Kav 64 Bl M, Jakarta 12160 ,
Tel.: (62)(21) 7203892

Anggrek Bar,
Jl Bekasi Tmr Raya 9, Jakarta 13350, Tel.: (62)(21) 8568407

Aphrodite Bar and Restaurant,
Jl. HR Rasuna Said Kave C.22 Jakarta 12920. Tel.: Ph. (62)(21) 5263150, Fax.: (62)(21) 5263265. Specialties: Mixed fruit, milk shake, beer, wine. Food: soups, salad, tuna, fish and chips, fried chicken, calamari, fried rice, chicken rice, beef goulash, spaghetti, steak. Price: moderate. Opening hours: 10.00 AM to 01.00 AM, on weekend: 03.00 AM.
Antik Discotheque
Jl. P Jayakarta 45 Bl A-1/17-20, Jakarta 11110 ,
Tel.: (62)(21) 6494980
Afterhour
One of Jakarta’s best pool halls. Sports quality tables, excellent service and good drinks. Food is also available from next door at Chilis. [STH]
Sarinah Building 2nd-fl, Jl Thamrin. Tel. 398 32047.

Asemka Simas Discotheque & Karaoke
Jl. Asemka Psr Pagi, Jakarta 11110 ,
Tel.: (62)(21) 6310383

B

Bandara Discotheque
Pert Aldiron Plaza Bl B/3 RT 006/05, Jakarta 11510 ,
Tel.: (62)(21) 56969914

Barong Discotheque
Jl. Pluit Indah Raya 168, Jakarta 14450 ,
Tel.: (62)(21) 6695461
Barolo Bar,
Jl Kemang Raya 2 Bisnis Kemang Plaza, Jakarta 12730, Tel.: (62)(21) 7183422

Bintang Mawar,
Jl Mangga Besar VII 17-19-21, Jakarta 11170, Tel.: (62)(21) 6594826

Blueprints Bar,
Jl Letjen S Parman Kav 93-94 Hotel Twin Plaza Menara Asri Lt 1, Jakarta 11420, Tel.: (62)(21) 56960888

Brown Bar,
Jl Kali Besar Brt 44-46, Jakarta 11230, Tel.: (62)(21) 6907926

BabyFace
One of newest additions to Jakarta nightlife scene.
Gedung Djakarta Theatre Level Two
Jl. MH. Thamrin No 9 Jakarta. Tel. 3192 5808.

Bacchus
Features an intimate and cozy atmosphere,* and combines fine wine with superb food. InterContinental Mid Plaza Hotel,
Jl Sudirman. Tel. 251 0888.

Banana Kafe
Small, European inspired extravagant and kitschy with fun phallic imagery for a Friday night.
Dharmawangsa Square-City walk. Tel. 7280 1834.

BATS
Hugely popular** eating, drinking* and live music* venue. Frequented by flirty ladies and a post-work expat male crowd.
Shangri- La Hotel.Jl Sudirman. Tel. 574 8400.

Bedroom
Cozy new spot with beds for lounging.
Commercial Building, 4th Floor
Jl. Kemang Raya No 15. Tel. 717 945 88

Bugil’s
Amsterdam-style bar with cosy atmosphere* inside and terrace* outside*. One of the most relaxed and easy places to hang out and have a beer in the city.
Taman Ria Senayan. Tel. 574 7650.

burgundy
Fresh, sophisticated and upmarket* bar. Good cocktails.
Grand Hyatt Hotel.* Jl Thamrin. Tel. 390 1234.

Bliss/Loft 25
Enormous and sleek lounge and club playing house on one side and hip hop in the other. Menara Jamsostek 25-f.
Jl Gatot Subroto. Tel. 252 2211.

C

Centro
Happening club from Singapore’s Centro 360. They often have guest international DJs.
Jl Dharmawangsa IX (Next to City Walk). Tel. 7278 0800.

Churchil Bar,
Jl Lap Banteng Slt 1 Hotel Borobudur, Jakarta 3rd Fl, Jakarta 10710, Tel.: (62)(21) 3805555

Cjas Bar,
Jl Asia Afrika Hotel Mulia Senayan Lt Mezzanine, Jakarta 10270, Tel.: (62)(21) 5747777
Club36
Jayakarta Hotel
Jl. Hayam Wuruk Raya No. 126 Jakarta 11180

Cleopatra Discotheque
Jl. Agung Utara Raya Bl A/5, Jakarta 14350 ,
Tel.: (62)(21) 64716899

Cinnabar
Trendy bar with one of the most tasteful, modern Asian designs in town. Popular with foreign correspondents and young professionals.
Plaza Gani Djemat.
Jl Imam Bonjol 76-78 (next to Deutsche Bank). Tel. 390 3615

Club Fez
Indian-interior bar and dance area. Great snacks and pool tables.
Kinara Building. Jl Kemang Raya no78B. Tel. 719 2677.

Cuba Libre
Latin bar and cigar lounge upstairs* from Domus restaurant.
Jl Veteran I No30. Tel. 344 7288/9

CT Bar,
Jl Hayam Wuruk 123, Jakarta 11160, Tel.: (62)(21) 6248680
D

Debasic,
Jl. Melawai Raya No. 73, Jakarta Selatan, Tel.: (62)(21) 7257181, Fax: (62)(21) 7254151. Facility: bar, live music (hip hop, retro and jazz), restaurant, discotheque. Drinks: fine wine, cocktail, liquer based coffee, Debasic Sensation, Strawberry Basic Margarita, Long Basic Island. Specialty: Caesar Salad, Goulash Soup, Calamari Calypso, Entrecote Conosierre, Veal Escallop St. debasic, Deep Fried Oxtail. Price: moderate.
Dragonfly
Jl Jend Gatot Subroto Kav 23 Graha BIP Lt 1 Jakarta 12930,
Tel.: (62)(21) 520 2913.

Dreams Discotheque
Jl. Mangga Besar Raya 4-HH, Jakarta 11170 ,
Tel.: (62)(21) 6495092

Dragonfly
Sleek bar and lounge with sensual* lighting and adjoining restaurant.*
DJ nights at weekends.
Graha BIP. Jl Gatot Subroto 23. Tel. 520 6789.
E

Embassy
Huge impressive dance music club with fashionable, young crowd.
Taman Ria Senayan, East End Bldg.
Jl Gatot Subroto. Tel. 574 2047.
Emporium
Jl. Pecenongan, Central Jakarta.

F

F Bar,
[STH] Plaza Indonesia L1-2#EX, Jl. MH. Thamrin Kav. 13, tel. +62-21-31909079. Super-stylish bar/club with DJ spinning nonstop and Fashion TV on all the walls, and an expensive fusion restaurant downstairs for quieter moments. Draft Bintang a mere Rp 25,000, but this is the kind of place that calls for a strangely named cocktail — if the Flaming Gorilla Tits (Rp. 80,000) isn’t your scene then go for a well-mixed Kamikaze (Rp 55,000).
Furama Club
Jl. Hayam Wuruk 72, Jakarta 11160 ,
Tel.: (62)(21) 6257272

Fashion Hotel
Jl Gunung Sahari XII no.2
Face Bar
Upmarket modern Asian bar. Sensual,* cosy and sleek.
Jl Dr Kusuma Atmaja No 85. Tel. 319 25037

Flanagan’s Irish Pub
Jakarta’s most authentic* Irish pub, offers great traditional* food, pool and a great selection* of beer.
Sari Pan Pacific Hotel*. Jl Thamrin No 6. Tel. 390 2707.

Front Row
Big screen sports.
Taman Ria Senayan.Jl Gatot Subroto. Tel. 574 7231.

G


Gelato Bar,
Jl MH Thamrin Kav 28-30 EX 37-38 Lt 1, Jakarta 10350, Tel.: (62)(21) 3151874

Guitar String
After a hard day at work… get rid of your stress.
Jl. Falatehan I no.37, Blok M. Tel. 727 97078.

Goldmine
Golden Boutique Hotel Melawai,
Jl. Melawai VIII/ 6-8. Tel. 720 6222.

Gumarang Bar,
Jl KH Wahid Hasyim Hotel Ibis Tamarin, Jakarta 10350, Tel.: (62)(21) 3912323

Gypsy Bar,
Jl Iskandarsyah I 9, Jakarta 12160, Tel.: (62)(21) 72794243
Golden Crown
Jl Pinangsia Raya 1 Glodok Plaza Lt 7, Jakarta 11110,
Tel.: (62)(21) 6230 2888

Golden Time
Jl Agung Utr Raya Sunter Agung Podomoro Bl A/5-A, Jakarta 14350,
Tel.: (62)(21) 6583 4504

Grand Manhattan Club
Jl. Lap Banteng Slt 1 Hotel Borobudur Jakarta Lt 1-3, Jakarta 10710 ,
Tel.: (62)(21) 3842223

H

H2O Bar,
Jl Melawai IX 10-F, Jakarta 12160, Tel.: (62)(21) 7245151
The Highlander’s
Scottish-themed pub in South Jakarta.
Jl. Kemang Raya 2 H. Kebayoran Baru. Tel. 719 4121.

Happy Dragon,
Jl Mangga Dua Raya Hotel Dusit Mangga Dua Lt Lobby, Jakarta 10730, Tel.: (62)(21) 6128811
Hard Rock Cafe, Plaza Indonesia L2#EX-07
Jl. MH. Thamrin Kav. 13,
tel. (62)(21) 3199 0164.

Hailai
Jl Lodan Tmr 1 Hailai Bldg, Jakarta 14430
Tel.: (62)(21) 645 9868 ,, (62)(21) 601 5955

I

International Yacht,
Jl Gn Sahari Raya 3 Sheraton Media Hotel Lt 3, Jakarta 10720, Tel.: (62)(21) 6263001

J

Jakarta Discotheque
Jl. Mangga Besar Raya 91 D/E-93, Jakarta 11170 ,
Tel.: (62)(21) 6591689

JJ Duit Pub
Jl. Tanah Abang Tmr 16, Jakarta 10110 ,
Tel.: (62)(21) 3459031

J Lounge
Gran Melia Jakarta Hotel,
Jl. HR. Rasuna Said. Tel. 527 3778

K

Kelts Irish Pub,
Jl HR Rasuna Said Kav X-O Hotel Grand Melia Lt 1, Jakarta 11510, Tel.: (62)(21) 5268080
Klub 7 ( K7)
Hip and fun super club with karaoke, café and lounge, an underground disco. The city’s best dance music DJs, like Anton, Naro and Romy, play here. [STH]
Jl. Kunir, No.7, West Jakarta. Tel. 690 7575.

Komodo Menari,
Jl Melawai IX 10-F, Jakarta 12160, Tel.: (62)(21) 278 3653

Kota Bumi,
Jl Hayam Wuruk 111-ZD, Jakarta 11160, Tel.: (62)(21) 6260825

L

La Terraza,
[STH] Jl HR Rasuna Said Kav X-O Hotel Grand Melia, Jakarta 11510, Tel.: (62)(21) 5268080

Lobby Bar,
Jl Prapatan 44-48 Hotel Aryaduta, Jakarta 10110, Tel.: (62)(21) 23521234

Lone Star,
Jl Blora 19, Jakarta 10310, Tel.: (62)(21) 3143962
Lasonta Discotheque
Jl. Palatehan I 29, Jakarta 12160 ,
Tel.: (62)(21)
7394148
La Bizhad
Stunning bar next to Lara Djonggrang restaurant. A must-see
Jl. Cik Di Tiro No 4 Menteng. Tel. 315 3252, 316 0288.

Liquid Room
Good place to have drinks after dinner. [STH]
CITOS. Cilandak Town Square. Tel. 7592 0334 – 7.

Lintas Melawai Club
Jl. Melawai Raya 22 Ged Lintas Melawai Club Lt 2, Jakarta 12160 ,
Tel.: (62)(21) 7255726

Lisa Discotheque
Jl. Gajah Mada 3-5 Kompl Duta Merlin Bl CNO/1-3, Jakarta 10130 ,
Tel.: (62)(21) 63855505

M


Manchester United
Fun sports bar with huge screens and good grub.
Jl. MH Thamrin No 11. Tel. 2300392.

Manna House
A facelift has been given to the enduringly popular Manna Lounge. DJs and live bands. Taman Ria Senayan, East End Bldg no101.
Jl Gatot Subroto. Tel. 574 5494.

Mistere Hip
Upmarket joint with killer sound system.
Ritz-Carlton Hotel,
Jl. Lingkar Mega Kuningan. Tel. 2551 8888.

Mojito Lounge
5-floor Parking Area Plaza Senayan. Tel. 572 5245.
Majapahit,
Jl Brawijaya 26 Hotel Dharmawangsa Ground Floor, Jakarta 12170, Tel.: (62)(21) 7258181

Mardi Gras Lounge,
[STH] Jamz 2, Grand Lippo Sudirman, Jl Garnisun Dalam 8, Karet Semanggi, South Jakarta, Tel.: (62)(21) 574-5670. Facility: bar, live jazz
performance. Drinks: Fine Wine, Willowglen Shiraz Cabernet, champagne, liquer chardonnay. Food: steak, spaghetti. Opening hours: 06.00 PM to 01.00 AM. Price: splurge.

Mario’s Place,
Jl HOS Cokroaminoto 79 Menteng Plaza Lt Dasar, Jakarta 10310, Tel.: (62)(21) 3917301 [sudah pindah lokasi sejak awal 2007 ini [STH]

Metropolitan Bar,
Jl Enggano 96, Jakarta 14310, Tel.: (62)(21) 43937818

Mega Dangdut Bar,
Jl P Tubagus Angke Bl VV/19-D, Jakarta 11460, Tel.: (62)(21) 5661877

More International,
Jl Melawai VIII 2-A, Jakarta 12160, Tel.: (62)(21) 7393594
My Bar
Good pub grub and lively, mostly expat clientele. Cheap and more popular with men than with women (see the My Bar calender competition).
Jl Falatehan 1 no16, Blok M. Tel. 739 6510.

Millenium

Jl Gajah Mada 19-26 Gajah Mada Plaza Lt 5-6, Jakarta 10130,
Tel.: (62)(21) 6385 7552

Milles Executive Club
Jl Lokasari Mangga Besar Plaza Lt 4
Jakarta 11170, Tel.: (62)(21) 625 5318

Monaco Club
Hotel Gran Mahakam, Jl Mahakam I no 6, Jakarta Selatan,
Tel.: (62)(21) 7209566.

M2000 Discotheque
Jl. KH Samanhudi 11-A, Jakarta 10710 ,
Tel.: (62)(21) 3856580

Maya Discotheque
Jl. Jatinegara Tmr 22, Jakarta 13310 ,
Tel.: (62)(21) 8505556

Medika Discotheque
Jl. Daan Mogot I 27-33, Jakarta 11470 ,
Tel.: (62)(21) 5682610

Monster Discotheque
Jl. Blora 19, Jakarta 10310 ,
Tel.: (62)(21) 3143961

Moonlight Discotheque
Jl. Hayam Wuruk 120, Jakarta 11160 ,
Tel.: (62)(21) 6293274

Morgans Discotheque
Jl. Senen Raya 135 Plaza Atrium Lt 1, Jakarta 10410 ,
Tel.: (62)(21) 3442828

Musro Discotheque Pub & Karaoke
Jl. Lap Banteng Slt 1 Hotel Borobudur Jakarta Lt Dasar, Jakarta 10710 ,
Tel.: (62)(21) 3842050

N

Nucina Bar,
Jl Kemang Raya 24, Jakarta 00000, Tel.: (62)(21) 7193858
Nirvana
Hotel Maharadja
Jl. Kapten Tendean 1, South Jakarta
Tel.: (62)(21) 79183887 ,, (62)(21) 691 6009

New Stardust Discotheque
Jl. MH Thamrin 11 Ged Sarinah Lt 14, Jakarta 10350 ,
Tel.: (62)(21) 3146601

New Tanker Discotheque
Jl. Cilincing Raya 53, Jakarta 14270 ,
Tel.: (62)(21) 43931091

O

Onix Bar,
Jl Letjen S Parman Kav 59 Hotel Ibis Slipi, Jakarta 11410, Tel.: (62)(21) 5331560

Oriental Bar
Professional service, some of the best cocktails in town and excellent free canapes keep patrons* coming back.
Mandarin Oriental Hotel
Jl Thamrin. Tel. 3983 8888. exTel. 5358.
P


Paprika
Highly trendy and modern wine ounge and restaurant. Good food.
Jl Wahid Hasyim no 55A. Tel. 314 4113.

Paparazzi
Plaza Indonesia, ground floor #127. Tel. 319 27922.

Pendopo Lounge
With a beautiful view of the garden and swimming pool, Pendopo Lounge is the perfect place to relax after a busy day. Afternoon Tea buffet daily from 3 – 6 PM and Live Band entertainment everyday.
Hotel Borobudur,
Jl. Lapangan Banteng Selatan. Tel. 380 4444 ext. 7360.

Planet Hollywood
The world’s 16th Planet Hollywood. A party place.
Jl Gatot Subroto. Tel. 526 7827.
Pool Bar,
[STH] Jl Angkasa 1 Golden Boutique Hotel, Jakarta 10720, Tel.: (62)(21) 6255555

Puspita Bar,
Jl Ir H Juanda 34, Jakarta 00000, Tel.: (62)(21) 31934790

Parahiangan
Jl. Blora 24 RT 002/06, Jakarta 10310 ,
Tel.: (62)(21) 3101069

Pit Stop
Jl. MH Thamrin 6 Hotel Sari Pan Pacific Lt 2, Jakarta 10340 ,
Tel.: (62)(21) 31923707

Princess Sound & Lighting
Jl. Kebayoran Lama Raya 14, Jakarta 12230 ,
Tel.: (62)(21) 7221064

Pujasera Discotheque
Jl. Mangga Besar 65, Jakarta 11170 ,
Tel.: (62)(21) 6592445

Q

belum ada daftar

R


Ratu Bar,
Jl Enggano Raya Ruko Enggano Megah Bl B/14, Jakarta 14310, Tel.: (62)(21) 4354485

Red Square,
Plaza Senayan Arcadia,Unit X-105,Jl. New Delhi No.9, tel. +62-21-5790-1281. Jakarta’s first vodka bar, in chic black and red, serves up all sorts of vodka-based cocktails (how about a Bloody Red Square?) [STH] plus “fusion Russian” cuisine with items like Russian Bruschetta and Borscht Buntut. There are dancers and fire-juggling bartenders most nights at 11 PM. Open from 11:30 AM to past midnight, most cocktails from Rp 50,000 up.

Regal Bar,
[STH] Jl Letjen S Parman Bl H-1, Jakarta 11410, Tel.: (62)(21) 5307792

Rajamas Entertainment
Jl. Hayam Wuruk 100 Hayam Wuruk Lindeteves Bldg, Jakarta 11180 ,
Tel.: (62)(21) 6242526

Rasa Sayang Discotheque
Jl. Mangga Besar I 63 H-F, Jakarta 11180 ,
Tel.: (62)(21) 6398789

REM Club
Jl Laks. R.E. Marrtadinata No. 10, Jakarta 1440,
Tel.: (62)(21) 6917049.

Rich Private Club
Bellezza Shopping ArcadeGround FloorArteri
Permata Hijau
Jl. Jend. Soepono No. 34 Jakarta Selatan
Ph. +62 21 5366 4775
Fx. +62 21 5366 4776
rich_ent@cbn. net.id

S


Sari Ayu Bar,
Jl P Jayakarta Bl B-43/45-49, Jakarta 10730, Tel.: (62)(21) 6296486

Satu Lagi,
Jl Terogong Raya Hotel Kristal, Jakarta 12430, Tel.: (62)(21) 7507050

Some Palace Else,
Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta 15125, Tel.: (62)(21) 5597777

Sportsmans Bar,
Jl Falatehan I 8, Jakarta 12160, Tel.: (62)(21) 7204731

Stanford Arms,
Jl Iskandarsyah Raya 1 Hotel Ambhara Ground Fl, Jakarta 12160, Tel.: (62)(21) 2700800

Star Deli
Comfortable, friendly, spacious* and relaxed, 1950s-style bar and diner with cheap beer and bar snacks.
Jl Kemang Selatan Raya no 5. Tel. 781 8649.

Stix
Popular venue with great Latin bands and some of the city’s best steaks.
Park Lane Hotel. Jl Casablanca. Tel. 828 2000.

Sedap Malam
Jl. Hayam Wuruk 111-M, Jakarta 11160 ,
Tel.: (62)(21) 6391066

Selayang Pandang Discotheque
Jl. Mangga Besar VIII 3-D, Jakarta 11170 ,
Tel.: (62)(21) 6398509

Siera Discotheque
Jl. Mangga Besar Raya 65, Jakarta 11180 ,
Tel.: (62)(21) 6498254

Stadium
Jl. Hayam Wuruk 111 FF-GG-HH-II-JJ, Jakarta 11160 ,
Tel.: (62)(21) 6263323

Sydney 2000
Jl. Hayam Wuruk Pert Glodok Jaya Lt 9, Jakarta 11180
Tel.: (62)(21) 6250686

SANDS
mangga 2 square
nb (one stop entertaint kali ya lebih cocok)

SUN CITY LUXURY CLUB
Lindeteves Trade Centre 5th – 8th Floor Jln.Hayam Wuruk No.127 Jakarta 11180
Telp: +6221 6220-1900(hunting)

T

Tao Bar,
Jl Veteran I 18-19, Jakarta 10110, Tel.: (62)(21) 3855653

Tavern The,
[STH] Jl Prapatan 44-48 Hotel Aryaduta, Jakarta 10110, Tel.: (62)(21) 23521234

The Bar at Four Seasons/BATF,
Jl HR Rasuna Said Four Seasons Hotel, Jakarta Lt 2, Jakarta 12910, Tel.: (62)(21) 2523456

The Bar at Shangri-La /BATS,
Shangri-La B1F, Kota BNI, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1. Featuring Flashdance for the top 40 live music and the jazz sounds of Kemala Ayu at the After Work Club from 5-7 PM.

Tigakuda Bar,

Jl Cikini Raya II 105 Hotel Menteng II Lt 1, Jakarta 10330, Tel.: (62)(21) 31925543
Tiga Puluh,
Le Meridien 1F, Jl. Jend. Sudirman Kav. 18-20. Jakarta 10220, Tel.: (62)(21) 2513131, The Jekyll and Hyde of Jakarta’s nightclubs: as you step in, you’ll find a stylish, quiet, well-lit wine bar, but behind the double doors lies a dimly lit and noisy nightclub packed with girls. The live bands are, however, a notch above the average. Rp. 75,000 cover on weekends.
TGI Fridays
American bar for those who like drinking imported beers and watching* barmen juggle
Taman Ria Senayan. Jl Gerbang Pemuda. Tel. 574 2083.

The Bar
Classic cigar and library lounge. Good for a quality whiskey and quiet chat.
The Four Seasons Hotel, Jl Rasuna Said. Tel. 252 3456.

The Rain
Gedung Surya Lantai 2, Jl. MH. Thamrin Kav 9 .Tel. 310 2201.

The Tavern
Relaxing, hospitable hote*l bar famous for its hot-stone steaks.
Aryaduta Hotel, Jl Prapatan no 44-48*. Tel. 231 1234.
Top Gun
Jl. Falatehan I No. 32-33, Blok M. Tel. 739 5436.

U

Untitled Fun Pub,
Jl Lingkar Mega Kuningan Kav E-1-2/1-2, Jakarta 12950, Tel.: (62)(21) 57988888

V

Venue Bar,
Jl Kemang Slt 2, Jakarta 12560, Tel.: (62)(21) 7805610
Valentino Night Club
Jl Mangga Besar Raya 91-E, Jakarta 11170,
Tel.: (62)(21) 659 3709
Vertigo
Plazza Semanggi 16th &17th Fl. [STH]
Jl. Jend. Sudirman Kav 50. Tel. 2553 6756.

W

Wasabi Sushi Bar,
Jl Kemang Raya 66, Jakarta 12730, Tel.: (62)(21) 7190802

Widya Discotheque
Jl. Daan Mogot I 11, Jakarta 11470 ,
Tel.: (62)(21) 5682886

White House
Jl Jend Sudirman Kav 54-55 Plaza Bapindo Ged Parkir Lt 1, Jakarta 12190,
Tel.: (62)(21) 527 5635
wwwok!
Cyber cafe with funky modern-Asian bar upstairs* and restaurant downstairs.
Jl Kemang Raya No 9. Tel. 719 3928-9.
X-Lounge
Sleek and minimalist club and lounge playing RnB in the lounge and house music with laser lights in the club. Zen influences and views over the city.
Plaza Semanggi, 16/17-F. Tel. 2553 9892.

X

X2
Plaza Senayan Lt. 4, Jl. Asia Afrika No. 8
Tel : 5725570 / 5725560

X-Lounge/Vertigo
Gedung Veteran RI 16-17F (in Plaza Semanggi), Jl. Gatot Subroto,
tel. (62)(21) 2553 9892.

Y

belum ada daftar

Z

Zebra Bar,
Jl Laks L RE Martadinata 1 Hotel Ancol, Jakarta 14350, Tel.: (62)(21) 6916009

Zen
Jl MH Thamrin Kav 3
Jakarta, [STH]
Tel/Hp : 0212303078

Published in:  on May 8, 2009 at 9:07 am Comments (4)