oleh Priska Kalista
Pakaiannya berwarna merah marun bermodel pendekar Madura: baju tak berkerah yang dibiarkan tak dikancing serta celana sate. Menutupi kaus warna hitam yang sudah memudar. Peci di kepalanya ia lepas. Ia memarkir bendinya di pinggir lapangan. Dihampirinya ember biru yang terletak di depan bendi. Kakinya yang menginjak kotoran kuda tak ia perdulikan. Tangannya dengan mantap meramu ampas tauge yang dicampur dedak dan rumput dalam ember itu. Diaduknya racikan itu dengan tangan kanannya tanpa rasa jijik. Si kuda meneteskan air liur.