Archive for MAGiS
Receive the Power
Every nation, every tribe,
come together to worship You.
In Your presence we delight,
we will follow to the ends of the earth.
Chorus
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power, from the Holy Spirit!
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power to be a light unto the world!
Verse 2
As Your Spirit calls to rise
we will answer and do Your Will.
We’ll forever testify
of Your mercy and unfailing love.
Chorus
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power, from the Holy Spirit!
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power to be a light unto the world!
Bridge
Lamb of God, we worship You,
Holy One, we worship You,
Bread of Life, we worship You,
Emmanuel, we worship You.
Lamb of God, we worship You,
Holy One, we worship You,
Bread of Life, we worship You,
Emmanuel, we will sing forever.
Chorus
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power, from the Holy Spirit!
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power to be a light unto the world!
MAGiS Experiment, Ignatian Gathering, and World Youth Day 2008
Howdy… It’s been a week since I left Sydney for Jakarta… For about 3 days, I’ve had a jetlag… My body seems to reject the time… I woke up at 4am, I felt hungry at 10am, and I got sleepy at 7pm…
I dreamt 2 nights ago, and the other night… I dreamt that I met Caroline from Taiwan… I asked her to sign my hat, becoz she’s the only person who hadn’t sign my hat…
I dreamt that I was still in experiment, that I was still in St. Ignatius College… I missed my friends! I met Rainbow on MSN yesterday… It’s like a dream! I met her! Talk to her… Despite I had chatted with her, I felt that it’s not,, and it’s never be the same again! I talk to her, but I can’t hear her voice… I couldn’t see her face…
Last Saturday I had conversation mandarin class… And it was remind me of how I heard Jimmy spoke Chinese… I used to like the class, but last Saturday I felt sad… Becoz of the Mandarin, I remembered my friends…
After the class, I went to Sanggar Ciliwung again… During the journey, I kept quiet… Silent… And cried… Becoz I missed them, I missed the mass, I missed the cold food, I missed the 6 celcius degrees! I missed the crowd, the singing, and how everybody around me is very friendly, all Catholic, wao! And now I have to live my life… Study… I missed the sphere… I went to Ciliwung, becoz I missed the children… And who knows, I met Fitri there! Unintentionally! It was great, to be there again… Like my own home…
It will never be the same again…
And one thing, I LOVE JESUS! I love God… I used to say this over and over… But this time, I mean it… It’s strange… The love… It’s different with my love to my parents, to my boyfriend… It’s,,,indescribable! So pure from my heart… I am not a person who prays all the time… But deep in my heart, I worship Him… and I love Him…
If there is ONE word to say before God, I’d say, “thank you, Lord!” Thank you for EVERYTHING! You have gave me amazing life! Thank you! Use me as Your army, and let my life be as Your will…
jakarta… bali… sydney…
how r u there? it’s been cold in here.. yesterday was 6-16 degrees but now it’s warmer now, it’s about 7-18 degrees… i’ve made a lot of friends here… new friends… coming from all countries around the world… and esp, i’ve made a good relationship from those in Taiwan and Germany… i like the food, because i like bread, cheesse, meat, vegetables… but all my friends from indonesia don’t like it… it’s a shame… i sleep in St. Ignatius College in riverview, lane cove, sydney… it’s a catholic college, all boys… i was lucky, i sleep in dormitory, many of the others participant sleep in a hall or classroom with sleeping bed… i had a spring bed!!!
it’s a HUGE COLLEGE!!! almost half of UI… and the facilities,,, WAO!!!! i really want to stay in here and school in here… i had a very amazing time! last night, we had a barberque at the yard, and there was a live music… we all dancing… oh such a great time!!! so, how’s life in there? i look forward to see u soon!!
Countdown to MAGiS Experiment 2008
Hari demi hari berlalu. Rasanya baru kemarin ketika kubaca selebaran yang diselipkan di buku misa Natal Bersama KMKUI 5 Januari yang lalu di Balairung. Selebaran itu bertuliskan ajakan dan tawaran untuk mengikuti MAGiS, suatu program yang ketika itu belum jelas apa, bagaimana, mengapa, di mana, oleh siapa, dan kapan. Perasaan tertarik sejak pertama kali membawaku melalui berbagai tahap hingga sekarang ini. Mulai dari pengisian formulir, seleksi, preparatory program setiap hari Minggu, dan akhirnya sekarang 30 Juni 2008.
3 hari lagi. Sejak kemarin Jumat aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baju, alat tulis, obat2an, perlengkapan mandi, pokoknya yang dibutuhkan dalam acara MAGiS ini. Tepatnya, aku akan memulai suatu program leadership training dalam Spiritualitas Ignatian. Acara itu dimulai Kamis, 3 Juli 2008 sore hingga 21 Juli 2008. Dari tanggal 3-11 berupa experiment di Jakarta. Nantinya, aku akan live-in dari tanggal 5-8 di tengah2 masyarakat Jakarta pinggiran, entah itu di Ciliwung atau di Bantar Gebang. Experiment di Jakarta ini akan bersama-sama dengan peserta MAGiS dari Jerman, Taiwan, dan Australia. (Pas banget! Sebulan yll aku baru memulai kursus Mandarin! :p) Kemudian dilanjutkan tanggal 11-21 berangkat ke Sydney dengan Garuda Airlines (via Denpasar) untuk mengikuti Ignatian Gathering dan World Youth Day. Acara puncaknya nanti berupa misa yang dipimpin oleh Paus Benedictus XVI sendiri.
Wah, rasa bangga ini tak terlukiskan. Bayangkan. Aku adalah salah satu dari 7 peserta terpilih se-Jakarta untuk MAGiS ini. Tapi rasa deg2an juga ada. Duh, ntar gmn y? Gmn kalo tiba2 speechless, lupa bhs inggris, ga tau apa2 ttg spiritualitas ignatian, malu2in di depan seluruh pemuda/i Katolik seluruh dunia, gmn kalo ini, gmn kalo itu??!!
Selain itu ada banyak hal juga yang meresahkanku. Tgl 8 aku ada ujian Teori Bahasa dan Automata, matakulah Semester Pendek yang (terlanjur) kuambil. Walaupun urusan dengan dosen dan sekretariat ttg ujian susulan dan absensi sudah beres, aku merasa masih harus menanggung beban mengejar ketinggalan sekembalinya aku dari Sydney. Selain itu, aku sebagai asisten pelatih drill Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia (MBUI) dengan tanggung jawab segudang, merasa tidak enak, resah, galau, ga tenang meninggalkan corpsku itu. Walaupun sudah ada delegasi tugas, tetap saja aku merasa nanti gmn y kalo ada apa2? Yang tahu detailnya kan aku…
Hari Jumat yll aku berbicara 4 mata dengan Rm Yu dan akhirnya kusimpulkan sendiri bahwa untuk mengikuti kegiatan ini harus sepenuhnya, seutuhnya, tidak terbagi, agar fokus dan konsentrasi. Ya, aku akan meyakinkan diriku sendiri ttg hal itu.
Kemudian bagaimana dengan Razak? Tak terlukiskan lagi kekhawatiranku meninggalkan dia hampir 3 minggu. Sepertinya akan menjadi terlalu panjang jika semua kekhawatiranku kutumpahkan di sini.
Aku mengepak barang2ku dan ternyata untuk di Jakarta cukup lah dengan koper kecil. Namun untuk ke Sydney ternyata tak cukup koper kecil. Harus koper besar. Maklum, sedang musim dingin di sana. Yang membuat koper kecilku tidak cukup adalah mantel bulu yang tebal sekali dan jas hujan yang juga tebal. Selain itu aku juga membawa sepatu boot dan sleeping bag yang tahan hingga 6 derajat Celcius. Malu juga sih aku membawa koper sebesar itu. Dalam keadaan biasa saja, koper sebesar itu dibawa oleh keluargaku yang beranggotakan 3 orang untuk pergi 1-2 minggu. Aku takut juga koper sebesar itu merepotkanku nantinya. Belum backpack. Tapi yasudahlah.
Masalah berikutnya mengenai uang saku. Berapa ya yang harus kubawa? Aku harus segera bertanya2 ke teman-temanku untuk perbandingan nih.
Phew… rasanya tak terasa. Sedari kemarin ketika mulai packing aku sebenarnya sudah panik. Kayanya banyaaaak bgt yang harus disiapkan, ga habis2. Pusing!
Semoga nanti aku sehat2 saja di sana, dapat menikmati, dan ketika pulang mendapatkan sesuatu yang berguna untukku nantinya, entah dalam kehidupan sosial maupun spiritualitas. AMIN!
Preparatory Program MAGiS 2008: Analisis Sosial
Pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Mei 2008 yang lalu bertempat di Wisma SY, diadakan preparatory program MAGiS bertajuk Analisis Sosial. Acara yang dimulai pukul 18.00 ini dilaksanakan 2 hari menginap di Wisma SY hingga hari Minggu.
Bagi saya pribadi, program magis kali ini sungguh sangat hebat, menyenangkan, dan sangat menyentuh. Dimulai dengan diadakannya permainan berupa permisalan menjadi orang kaya dan orang miskin. Kami mengambil koin dengan warna-warna tertentu yang kemudian dihitung dan dari skor tersebut kami akan dipisah menjadi 3 golongan rakyat: kaya, mengenah, bawah. Terdapat seorang presiden permainan yang membuat aturan permainan sesukanya.
Pertama kali saya menjadi rakyat miskin. Saya dan teman-teman kaum miskin yang lain harus duduk di lantai, sementara melihat teman-teman dari golongan menengah dan atas duduk di bangku, dan disediakan pizza dan kue-kue, serta meminum soft drink. Terasa sekali bagaimana dunia ini sangat tidak adil. Kemudian, presiden menyuruh kami untuk barter koin. Bagi mereka yang sudah kaya, mereka memilih untuk tidak barter. Namun saya dan kawan-kawan senasib berusaha setengah mati mencari koin yang lebih baik agar “naik tingkat”. Saya akhirnya berhasil menduduki golongan atas. Di sana, saya pun merasakan enaknya makan enak, minum enak, bahkan disediakan rokok dan bir pula. Namun kemudian presiden menurunkan mata uang sehingga terjadi resesi sebanyak 60 poin yang membuat saya jatuh miskin lagi. Menanggapi hal tersebut, saya berusaha untuk mengembalikan kekayaan saya. Presiden pun membuat kebijakan untuk memberi subsidi. Saya pun bisa merangkak ke golongan menengah. Hal ini membuat saya semakin gencar lagi barter mencari uang sehingga akhir permainan saya berada di kaum kaya lagi.
Hal menarik yang terjadi adalah ketika saya menjadi orang miskin dan saya melagukan lagu-lagu rakyat yang digubah sedikit liriknya yang bertujuan menghina kaum atas. Rasanya puas sekali menyuarakan ketidakadilan. Namun ketika saya berada di golongan atas, saya juga menerima cacian dari kaum bawah. Sungguh rasanya kepala saya ingin tertunduk merasa bersalah. Adapun saya sadar pula bahwa sebenarnya kebijakan yang dibuat presiden hanyalah agar membungkam mulut kaum miskin, padahal sebenarnya tidak ada bedanya.
MAGiS kali ini sangat mengubah cara pandang saya terhadap Indonesia. Bagaimana Kekuasaan akan menentukan Aturan Permainan dan hal itu akan berdampak pada Pembagian Rezeki (K->AP->PR).
Mungkin lebih baik jika saya menyertakan bahan-bahan MAGiS kemarin.
Preparatoty Program IV Magis08
Minggu kemarin di Wisma SY diadakan Preparatory Program IV mengenai Misteri Hidup Yesus. Dalam pertemuan kali ini, kami dihadapkan pada doa kontemplasi. Kontemplasi yang pertama adalah mengenai kehidupan Yesus di usia 12-30 tahun. Sedangkan kontemplasi kedua, kami berjalan-jalan dengan berfantasi sebagai Yesus; melihat, berpikir, dan bertindak seperti Yesus.
Pada doa yang pertama, sungguh luas imajinasi saya. Saya membayangkan Yesus itu pasti rajin ke Bait Allah, kemudian sore hari Ia akan pulang ke rumah, mencuci tangan dan kaki kemudian menyalami kedua orangtuaNya dan makan bersama. Sebelumnya mereka mengucap syukur.
Saya juga membayangkan kehidupan Yesus sebagai keluarga tukang kayu pasti mengalami naik-turun. Mungkin saja mereka pernah diteror oleh pemungut cukai. Mungkin juga mereka pernah mengalami masa-masa sulit.
Namun saya juga berpikir Yesus pastilah seorang pekerja keras. Ia belajar dari ayahNya cara memotong kayu dan membuat perkakas. Saya membayangkan mereka banyak mendapat pesanan dari masyarakat sekitar. Saya juga membayangkan Yesus pernah membuat sebuah barang (meja mungkin) dari kayu dengan ukiran tangannya sendiri sebagai hadiah untuk ibuNya, Maria. Karena Ia seorang pekerja keras, badannya pastilah kekar.
Saya bahkan membayangkan Yesus orang yang supel, banyak teman, dan suka berolahraga. Mungkin Ia suka bermain bola setiap sore bersama teman-temannya. Mungkin Ia sering berpesta dan menari bersama teman-temannya. Mungkin di pagi hari, Ia dan teman-temannya nongkrong di sudut pasar dan menggoda beberapa wanita cantik yang kebetulan lewat.
Bukan tidak mungkin bahwa Yesus muda pasti pernah berpacaran.
Kemudian pada kontemplasi kedua, saya berjalan bersama kawan saya, Randy, melewati stasiun, duduk di halte UI, menyusuri jalan setapak balhut, melihat rusa, duduk di halte FIB. Banyak yang saya lihat dan saya renungkan. Mengenai pengemis, hijaunya lingkungan UI, masih banyaknya protes-protes rakyat terhadap pemerintah (saya lihat dari poster seminar), adanya orang cacat, dan masih banyak lagi. Sebagai Yesus,
saya berpikir mengenai banyak hal:
- apa rencana Tuhan terhadap pengemis-pengemis ini? Mengapa masih ada saja ketimpangan sosial?
- lingkungan yang hijau ini bagus memang. Namun jika kita melihat ke luar, banyak orang yang mengabaikan lingkungan. Apakah tema APP yang kemarin hanya lewat begitu saja?
- rakyat masih hidup di kondisi yang menyedihkan, adanya ketidakpuasan terhadap pemerintah. Ah, mengapa orang lalu besar kepala dan memperkaya diri sendiri ketika ia berjabat?
- apa rencana Tuhan terhadap orang-orang cacat ini?
Di samping semua itu, saya senang karena ada banyak hal yang saya percakapkan dengan Randy. Mungkin Yesus juga begitu. Walaupun maha kuasa dan tahu segalanya, Ia juga butuh teman bercakap-cakap, bertukar pikiran, dan berbagi suasana.