Preparatoty Program IV Magis08

Minggu kemarin di Wisma SY diadakan Preparatory Program IV mengenai Misteri Hidup Yesus. Dalam pertemuan kali ini, kami dihadapkan pada doa kontemplasi. Kontemplasi yang pertama adalah mengenai kehidupan Yesus di usia 12-30 tahun. Sedangkan kontemplasi kedua, kami berjalan-jalan dengan berfantasi sebagai Yesus; melihat, berpikir, dan bertindak seperti Yesus.

Pada doa yang pertama, sungguh luas imajinasi saya. Saya membayangkan Yesus itu pasti rajin ke Bait Allah, kemudian sore hari Ia akan pulang ke rumah, mencuci tangan dan kaki kemudian menyalami kedua orangtuaNya dan makan bersama. Sebelumnya mereka mengucap syukur.

Saya juga membayangkan kehidupan Yesus sebagai keluarga tukang kayu pasti mengalami naik-turun. Mungkin saja mereka pernah diteror oleh pemungut cukai. Mungkin juga mereka pernah mengalami masa-masa sulit.

Namun saya juga berpikir Yesus pastilah seorang pekerja keras. Ia belajar dari ayahNya cara memotong kayu dan membuat perkakas. Saya membayangkan mereka banyak mendapat pesanan dari masyarakat sekitar. Saya juga membayangkan Yesus pernah membuat sebuah barang (meja mungkin) dari kayu dengan ukiran tangannya sendiri sebagai hadiah untuk ibuNya, Maria. Karena Ia seorang pekerja keras, badannya pastilah kekar.

Saya bahkan membayangkan Yesus orang yang supel, banyak teman, dan suka berolahraga. Mungkin Ia suka bermain bola setiap sore bersama teman-temannya. Mungkin Ia sering berpesta dan menari bersama teman-temannya. Mungkin di pagi hari, Ia dan teman-temannya nongkrong di sudut pasar dan menggoda beberapa wanita cantik yang kebetulan lewat.

Bukan tidak mungkin bahwa Yesus muda pasti pernah berpacaran.

Kemudian pada kontemplasi kedua, saya berjalan bersama kawan saya, Randy, melewati stasiun, duduk di halte UI, menyusuri jalan setapak balhut, melihat rusa, duduk di halte FIB. Banyak yang saya lihat dan saya renungkan. Mengenai pengemis, hijaunya lingkungan UI, masih banyaknya protes-protes rakyat terhadap pemerintah (saya lihat dari poster seminar), adanya orang cacat, dan masih banyak lagi. Sebagai Yesus,
saya berpikir mengenai banyak hal:

  1. apa rencana Tuhan terhadap pengemis-pengemis ini? Mengapa masih ada saja ketimpangan sosial?
  2. lingkungan yang hijau ini bagus memang. Namun jika kita melihat ke luar, banyak orang yang mengabaikan lingkungan. Apakah tema APP yang kemarin hanya lewat begitu saja?
  3. rakyat masih hidup di kondisi yang menyedihkan, adanya ketidakpuasan terhadap pemerintah. Ah, mengapa orang lalu besar kepala dan memperkaya diri sendiri ketika ia berjabat?
  4. apa rencana Tuhan terhadap orang-orang cacat ini?

Di samping semua itu, saya senang karena ada banyak hal yang saya percakapkan dengan Randy. Mungkin Yesus juga begitu. Walaupun maha kuasa dan tahu segalanya, Ia juga butuh teman bercakap-cakap, bertukar pikiran, dan berbagi suasana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: