9 April 2009 yang Memprihatinkan

Berbahagialah mereka yang mati muda, tapi lebih berbahagialah mereka yang tidak pernah dilahirkan

Pemilu legislatif 9 April 2009 telah berlalu. Namun dengan tidak sedikit catatan. Mulai dari pemberitaan bahwa terdapat banyak sekali pelanggaran, maupun hal-hal teknis yang mengganggu jalannya pemilu.

Saya pernah mendengar seseorang berbicara di depan forum, dan ia mengutip kata-kata dari seorang filsuf asing yang berkata, “Jika dalam waktu 3 kali pemilu setelah reformasi, pemerintahan masih saja kacau, maka akan dipastikan bahwa negara tersebut setelah 3 kali pemilu akan menjadi negara diktator.”

Apa yang sebenarnya terjadi pada pemilu tahun ini? Mengapa media massa menyebutnya sebagai pemilu paling kacau? Bagaimana mungkin surat suara bisa tertukar? Bagaimana mungkin panwaslu bisa “menangkap” adanya kurang lebih 167 pelanggaran? Mengapa orang dengan tamak dan najisnya mencari kekuasaan, menghalalkan segala cara, demi kepentingannya sendiri, menganggap gaji 30 juta per bulan masih kurang, padahal mereka hidup dari borok-borok, luka-luka, dan perut-perut kelaparan kaum marjinal??!!

Mengapa pemilu legislatif harus diadakan pada tanggal 9 April? Apakah ada motif-motif tertentu? Jelas-jelas 9 April berdekatan dengan long weekend (10 April adalah hari libur nasional: wafat Isa Almasih). Jelas saja jika pada hampir setiap TPS, DPT yang datang memberikan hak suaranya hanya berkisar 50%. Mungkin saja orang-orang akan lebih cenderung untuk long weekend ke Puncak atau menghabiskan waktu bersama keluarga ketimbang pergi ke TPS. Selain itu, Bali dan NTT belum melaksanakan pemilu. WHAT? Bali (yang mayoritas penduduknya beragama Hindu) baru saja menjalani hari raya Nyepi sehingga mereka men-postpone pemilu. NTT (yang mayoritas penduduknya beragama Kristen) juga mengundur pemilu. Alasan? Sederhana! Karena pada hari Kamis hingga Minggu umat Katolik merayakan hari besar mereka: Kamis Putih (memperingati Perjamuan Terakhir Yesus bersama murid-muridNya sebelum ditanggap), Jumat Agung (memperingati wafat Yesus Kristus di kayu salib), Malam Vigili Paskah (malah Paskah memperingati bangkitnya Yesus), dan Hari Raya Paskah (Yesus bangkit). Selama 4 hari berturut-turut umat Kristen/Katolik ke gereja memperingati hari besar mereka (yang menurut saya pribadi lebih sakral dan penting ketimbang Natal). Wajar jika penduduk NTT ingin melaksanakan ibadah mereka dengan khusyuk sehingga mengundur pemilu. PADAHAL, jika pemilihan diadakan setelah pemilu nasional, maka keadaan atau pemilu itu sendiri akan menjadi tidak netral. GOBLOK emang pemerintah! Gaya doang engkang-engkang kaki di kursi DPR dengan fasilitas aduhai, bergelar S3 dari universitas luar negeri, tapi pemikirannya sempit, mikir pake dengkul ya mereka?!

Saya tidak mau berkomentar soal partai-partai politik yang dari hasil quick qount sementara memperoleh peringkat ke berapa. Saya hanya menyayangkan kinerja KPPS. Kebanyakan ketua KPPS itu ditunjuk berdasarkan mereka yang butuh uang. Kesannya begitu, ya mungkin tidak semua. KPPS kebanyakan tidak kompeten! Dipilih biasanya yang ketua RT atau ketua RW. Satu anggota KPPS dibayar Rp300.000 lumayan kan! Tapi kerjanya? Ngaco! Saya sendiri relawan KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilu) dan saya melihat di TPS yang saya pantau bahwa mereka men-sahkan surat suara yang robek! Bahkan saya juga mendengar bahwa mereka tidak tahu secara rinci bagaimana cara teknis menghitung surat suara, mana yang sah mana yang tidak. Contoh jika mencontreng partai dan caleg, maka SEHARUSNYA suara dihitung 1 kali yaitu untuk CALEG SAJA! Saya mengetahui hal itu karena sebelumnya ada training dari KPU sendiri. Dan yang terjadi di masyarakat adalah KPPS menghitung 2 suara, yaitu untuk partai dan caleg. Duuuhhh…. Tidak kompeten kok digaji! Ngerti aja enggak kok disuruh jadi KPPS! Saya bingung mau memaki-maki siapa. Kenapa tidak mencari orang yang benar-benar rela menjadi KPPS, netral, mau capek, tapi sungguh-sungguh dan tahu DETAIL aturan-aturan pemilu dari KPU, sehingga akan memudahkan perhitungan, meminimalisasi kesalahan yang tidak perlu. Ketimbang mencomot KPPS dari mereka yang mempunyai jabatan di lingkungan TPS setempat.

Saya hanya takut. Takut jika perkataan yang saya dengar dari seseorang itu benar. Takut jika pemilu kali ini gagal, maka pemerintahan berikutnya akan menjadi pemerintahan yang otoriter.

PS: thanks to Jefri atas sharing-nya.

1 Comment »

  1. awigra Said:

    Waw….

    Mungkin itu kata yang tiba-tiba membuncah dari palung hati saya membaca satu tulisan di blogmu ini. Di sana, aku melihat Priska yang punya perspektif sosial…. Walau tetap dengan gayanya yang emosional dan jujur,,, Salut….

    Aku tergelitik dengan paragraf pembuka… Lahir dan hidup di sini adalah sebuah keterlemparan dalam bahasa Martin Heidegger. Kita nggak pernah bisa meminta ras apa yang akan menempel di kulit dan mengalir di darah kita, kita nggak bisa meminta siapa orang tua kita….. dsb-dsb. Dalam sebuah keterlemparan itu,,, mengutuki dan menyesali bagiku tiada artinya apa-apa.

    Aku masih percaya bahwa hidup adalah sebuah berkah luar biasa… Dan bagiku sendiri, hidup di dunia ini adalah untuk menghidupi nilai-nilai yang aku yakini benar (perjuangan pembebasan dari segala sesuatu yang masih mendidas). Tidak lebih dan tidak kurang!!! Dan melakukan itu dengan totalitas supaya tercapai kepenuhan….

    Hmm…. Ketika aku melihat di sisi kanan blog ini ternyata sudah terhubung dengan blog pribadiku, makasih ya Priska…. semoga memotivasi aku untuk kembali menulis apa saja yang bisa dibagikan. Karena menulis aku sadari penuh sebagai pekerjaan untuk keabadian.

    Teruslah menulis. Apa pun…. Karena kata Pramoedya Ananta Toer, apa pun yang tertulis akan abadi. Dan apa yang hanya dikatakan akan menguap bersama angin.

    Jujur sekali lagi di sini aku melihat Priska yang mulai memiliki perspektif sosial dan berpihak.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: