FACEBOOK SI POPULER DAN TEMAN-TEMANNYA SI PEMBERI KENIKMATAN MAYA

Dengan langkah mantab namun bosan karena sudah setiap hari melewati rute yang sama, saya melangkah menuju ruang lab komputer 07, ruang lab favorit saya. Melihat ke kanan dan ke kiri mencari komputer yang kosong, hingga akhirnya menemukan sebuah komputer yang dapat saya pakai. Sambil menunggu loading login, saya melihat sekeliling dan menyapa teman-teman saya. Ada yang sedang mengerjakan tugas, ada pula yang sedang browsing di berbagai situs. Meebo, Facebook, Plurk, Looklet, WordPress, menjadi “pelarian” wajib bagi kami mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI).

Pernah suatu kali seisi lab heboh dan saling berteriak, “Buruan comment, biar rame!” Ternyata ada seorang teman yang mem-post­ sesuatu yang kontroversi di ­wall Facebook-nya dan seisi lab kemudian berlomba-lomba memberikan comment­-nya sehingga halaman utama situs tersebut menjadi ramai dan penuh akibat “comment sampah” itu. Bahkan di Fasilkom Award tahun ini ada kategori Mahasiswa Ter-Facebook. Tentu saja kategori itu muncul bukan lagi karena situs tersebut menjadi booming, namun karena Facebook itu sendiri telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi saya dan teman-teman. Berbagi informasi bukan lewat sms atau percakapan langsung, tetapi melalui situs jejaring sosial tersebut. Gosip tersebar lewat Facebook, foto di-share­ lewat Facebook, bahkan mengetahui pribadi seseorang pun juga lewat Facebook. Pemenang Mahasiswa Ter-Facebook pun adalah seorang teman saya yang memang tergila-gila Facebook, dengan status yang selalu up to date, foto yang selalu berubah setiap harinya, dan rajin menulis notes yang “menyebarluaskan” informasi mengenai dirinya.

Facebook merugikan kampus saya. Hal ini didukung karena (1)situs-situs ilmiah tidak laku, mahasiswa memilih untuk membuka Facebook ketimbang situs-situs ilmiah yang mendukung kegiatan belajar-mengajar mereka, (2)UI mengadopsi hasil penelitian di Amerika yang menyatakan bahwa pemilik akun Facebook cenderung memiliki prestasi yang kurang ketimbang mereka yang memiliki akun Facebook, (3)akses Internet di lingkungan kampus UI menjadi lambat karena pengguna Facebook memakan banyak bandwidth. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan akses ke Facebook dan Frienster dilarang sejak Jumat, 15 Mei 2009. Ketika akses ke Facebook dan friendster di-banned oleh UI, saya dan teman-teman mencari-cari altenatif proxy lain agar tetap bisa mengakses situs tersebut. Bahkan mencari IP (Internet Protocol) dari situs-situs tersebut dan melakukan cara “pintar” agar larangan tersebut tidak mengganggu kegiatan Facebook. Jika banyak tugas dan mendekati deadline sekalipun, teman-teman saya tetap membuka Facebook dan jangan sampai ada hari tanpa membuka Facebook. Dari sini saja dapat dilihat suatu akibat negatif, yaitu menomorsatukan Facebook ketimbang pekerjaan utama. Saya kerap bertanya-tanya sendiri, mengapa pengaruh yang ditimbulkan dari Facebook sedemikian besarnya sehingga orang menjadi “mati gaya”, malas online ketika tidak bisa mengaksesnya, padahal ada banyak pekerjaan utama yang harus diselesaikan.

Di satu sisi, kegandrungan terhadap Facebook dan beberapa situs sosial lainnya membuat hidup lebih mudah karena dapat mengatasi perbedaan jarak dan waktu, dapat mempertemukan kembali teman lama dan dapat memulai persahabatan dengan teman baru. Tidak jarang juga muncul benih-benih cinta karena Facebook. Namun saya prihatin jika batas-batas privasi menjadi tidak jelas, menimbulkan ketergantungan, dan memunculkan dunia sendiri yang terpisah dari dunia nyata. Yang kerap terjadi adalah beberapa orang terlihat sangat akrab dan dekat karena sering berkomunikasi lewat Facebook, namun di dunia nyata mereka tidak pernah bertegur sapa. Fenomena asik sendiri, tertawa terbahak-bahak karena “terhibur” dengan hiburan maya menjadi keprihatinan saya.

Masyarakat dibuat menjadi individual dengan hadirnya situs jejaring sosial. Dari luar, mereka tampak menjanjikan dengan berbagai keunggulan, namun jika saya merenung, mengapa manusia dibuat menjadi semakin jauh satu sama lain? Daripada bertatap muka, lebih senang via messenger. Apakah terjadi suatu keputusasaan dalam diri setiap orang, khususnya warga perkotaan, sehingga mereka merasa sendirian dalam hiruk pikuk kota? Mengapa harus membuat pelarian dengan menulis notes secara gamblang, menggembar-gemborkan perasaan pribadinya lewat blog, menulis comment yang menghebohkan, apakah ini adalah suatu fenomena di mana setiap orang kini merasa sendirian, terasing, dan butuh perhatian? Apakah karena dimensi sosial kini telah memudar, maka manusia mencari cara lain untuk tetap diperhatikan oleh sesama? Namun ironisnya cara tersebut adalah cara yang tidak berwujud, maya, dan tidak konkrit. Susahkah pada zaman kini untuk mengumpulkan manusia, sehingga jalan pintas ditempuh, yakni dengan membuat group di Facebook, membuat beberapa event yang acaranya sebenarnya tidak penting, bahkan diciptakan sebuah teknologi untuk berkomunikasi langsung tanpa bertatap muka yaitu messenger?

Ketika privasi terganggu, siapa yang hendak disalahkan? Ketika batas-batas antara hal yang bersifat pribadi dengan hal yang bersifat umum sudah mulai luntur, maka tidak jarang terjadi salah persepsi. Apakah yang tertulis di situs sosial adalah hal yang sebenarnya? Apakah yang tertulis adalah sesuatu yang terbaru? Jika bukan, maka informasi yang tertera adalah informasi yang salah. Dan jika hal itu terjadi, sangat mudah cap-cap negatif muncul. Dan saat seseorang marah karena privasinya dilanggar, bukan salah orang lain karena ia menjual dirinya demi ketenaran, keeksisan, dan pengakuan sosial. Salah persepsi juga muncul ketika terjadi pergolakan sosial dalam Negara. Pemanfaatan media dapat dengan mudah menjadi sarana black campaign. Facebook menjadi ajang konspirasi politik. Kembali lagi ke pertanyaan awal. Apakah informasi-informasi itu benar? Semua menjadi anonim karena kita tidak tahu siapa, mengapa, dan bagaimana. Hati saya sungguh sangat berat melihat adanya pihak-pihak yang memanfaatkan budaya menjadi ajang mencari uang, mencari ketenaran, bahkan mencari kekuasaan. Dan ketika medan kesadaran diperebutkan, banyak yang tidak menyadari bahwa ia sudah menjadi komoditas. Bahkan ia senang dikontrol.

Bagaimana dengan budaya-budaya lain? Sebut saja klub-klub yang mengatasnamakan hobi dan media televisi. Saya pun melihat adanya budaya ikut-ikutan. Teman yang satu ikut klub motor, maka teman yang lain juga ikut. Teman satu klub ikut turing ke luar kota, teman yang lain juga tak mau kalah. Teman yang satu sedang hobi menonton acara musik di televisi, maka teman yang lain ikut menonton agar tidak ketinggalan. Keeksisan diri diperoleh lewat aktif tidaknya seseorang menulis blog, berpartisipasi dalam klub, dan kegemaran mengutak-utik Facebook. Namun jika ditelaah lagi, saya melihat bahwa dalam klub tersebut praktis hanya ada kepentingan pribadi anggota-anggotanya. Apakah pernah kelompok-kelompok hobi tersebut berkumpul karena ada bakti sosial, atau membantu korban bencana? Jika mereka selalu berdalih bahwa dengan menjadi anggota sebuah klub maka akan memperluas pergaulan, maka menurut saya yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka “bermain” dengan kelompoknya sendiri, tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya, sehingga pergaulan mereka menjadi sempit, karena bertemu dengan orang-orang yang sama dengan dirinya sendiri. Tidak ada variasi dalam pembicaraan mereka. Sebuah klub yang sudah berkembang besar, memiliki struktur organisasi yang jelas, mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, kerap identik dengan apa yang disebut mementingkan diri sendiri. Di sini saya menjadi prihatin karena masyarakat menjadi terkotak-kotak, tidak adanya relasi yang lebih luas dengan sesamanya, menutup diri terhadap lingkungan sekitar, menjadi miskin pergaulan, bahkan tidak dipungkiri terjadi bentrokan antarmasyarakat.

Salah presepsi juga muncul pada klub-klub hobi. Karena mereka mengeksklusifkan kelompoknya, muncul anggapan-anggapan negatif dari masyarakat. Sebut saja klub motor. Dari sekian banyak teman yang saya tanyai, mereka semua membenci klub motor. Asalannya identik, klub motor itu “belagu”, menyusahkan pengguna jalan raya yang lain, dan suka main aturan sendiri. Namun dari hasil pengamatan dan oservasi saya, sebenarnya ada aturan-aturan yang baik adanya, menguntungkan pihak klub namun juga tidak merugikan masyarakat. Kesalahpahaman menjadi masalah utama dalam hidup berdampingan dengan warga lain di luar klub. Dan hal inilah yang paling sulit diatasi, karena susah sekali untuk memberikan pengertian antarkeduabelah pihak.

Televisi pun menjadi gambaran betapa manusia sekarang menderita akibat penyakit baru, yakni kesepian. Manusia meninggalkan kerjaannya di dapur, meja belajar, meja kerja, hanya untuk “nongkrong” di depan televisi, atau membawa pekerjaannya ke depan televisi, demi memperoleh sesuatu yang dapat menemani kegiatan mereka. Banyak yang bercerita kepada saya bahwa mereka membiarkan televisi menyala tanpa ada yang menonton. Ketika saya bertanya mengapa, mereka menjawab, “Ya enak rasanya, jadi berasa ada yang nemenin.” Bukankah ini harusnya sudah menjadi keprihatinan kita semua?

Susahnya membedakan dunia nyata dengan dunia lain yang bersifat maya dan hobi membuat manusia menjadi kehilangan jati dirinya. Ia tidak lagi memiliki posisi tawar. Ia tidak dapat membedakan dirinya ketika sedang berhadapan dengan realita hidupnya dan ketika harus menjadi diri yang berbeda di hidupnya yang lain (di Facebook, di klub hobi, dll). Inilah cikal bakal penurunan mutu hidup seseorang. Banyak yang kemudian menjadi bermuka dua, memiliki dua kehidupan, dan akhirnya terjebak di tengah-tengah karena batas antar keduanya sudah mulai memudar. Saat itu terjadi, menyedihkan sekali rasanya jika ia kehilangan dirinya yang sebenarnya. Sebegitukah akibat-akibat yang ditimbulkan sehingga jiwa seseorang menjadi taruhannya? Menyukai suatu hal secara berlebihan dapat membawa dampak negatif pada kehidupan nyata. Prestasi yang menurun, hilangnya kesadaran untuk bersosialisasi, tekanan dari lingkungan sekitar, adalah contoh akibat negatif dari apa yang dulunya dianggap adalah budaya yang membawa perubahan.

Pernah dengar? Ada sebuah akun group anti-Facebook di Facebook. Lah, ini kan lucu! (PRK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: