Kudaku Lari Gagap Bertali

oleh Priska Kalista

Pakaiannya berwarna merah marun bermodel pendekar Madura: baju tak berkerah yang dibiarkan tak dikancing serta celana sate. Menutupi kaus warna hitam yang sudah memudar. Peci di kepalanya ia lepas. Ia memarkir bendinya di pinggir lapangan. Dihampirinya ember biru yang terletak di depan bendi. Kakinya yang menginjak kotoran kuda tak ia perdulikan. Tangannya dengan mantap meramu ampas tauge yang dicampur dedak dan rumput dalam ember itu. Diaduknya racikan itu dengan tangan kanannya tanpa rasa jijik. Si kuda meneteskan air liur.

Kuda putih itu langsung melahap santapan siangnya tanpa melepaskan sedetikpun pandangan dari ember biru. Lahapnya berburu dengan napasnya yang berat; tanda lapar. Moncongnya tidak pernah ditarik dari adonan makanannya. Sesekali diseruputnya air dengan memenamkan wajahnya ke hidangan. Dalam waktu sepuluh menit, telah ia habiskan setengah dari porsi makanannya.

Rangga adalah satu-satunya kuda berwarna putih yang menarik bendi di kawasan A, yaitu di sebelah timur Panggung Anak-Anak, Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. Derap kakinya mantap, hiasan bola merah di dahinya membuatnya tampak lincah dan lucu. Jantan itu harus mengelilingi sebuah taman luas dan memakan waktu ±5 menit setiap kali majikannya mencambuknya. Empat orang yang menjadi jatah maksimum tiap bendi kadang dilanggar demi senyum dan tawa pelanggan. Ya, anak-anak kecil suka sekali menaiki bendi Rangga atau bendi teman-temannya. Maklum, menaiki bendi menjadi barang yang langka dan mahal didapat di Jakarta.

Layaknya pekerja kantoran, Rangga bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Istirahat hanya diberikan setengah jam pada pukul 13:30. Di luar itu, Rangga harus siap menarik bendi, menahan lelah, dan menerima perintah dari kendali serta pecut. Urat-urat di kakinya yang tegap telah banyak berbicara betapa tangguhnya hidup hewan berkuku genap itu. Matanya yang selalu sayu dan menatap kosong terlihat lelah berteriak. Air liur selalu jatuh dari mulutnya karena tali yang dikaitkan di rahangnya. Menandakan tangisan yang hendak ia tumpahkan dari mata yang terlihat tegar itu. Napasnya yang terengah terlihat pada hidungnya yang kembang kempis. Minum pun jarang-jarang. Padahal usianya masih lima tahun, usia yang masih tergolong muda dibandingkan usia maksimum yang dapat dicapai kuda-kuda lainnya, yaitu 28-30 tahun.

“Ya, kasihan. Tapi gimana lagi?” ujar Anto, pemilik bendi dan Rangga. Sebelumnya Anto bekerja di sebuah pabrik kendaraan di Tangerang, Karawaci. Namun lulusan STM di Purwokerto ini harus di-PHK sehingga harus bekerja sebagai penarik bendi sejak tahun 2004. “Apa boleh buat, daripada nganggur,” kenangnya. Ketika itu ia ditawari temannya untuk bergabung sebagai penarik bendi di Taman Margasatwa Ragunan. Kebetulan karyawan kebun binatang ini banyak yang berasal dari Purwokerto. Ia kemudian membawa Rangga dari Purwoerto ke Jakarta dengan naik truk. Penarik-penarik bendi ini harus membuat kartu anggota dulu kepada pengelola kebun binatang. Hasilnya lumayan untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi di hari-hari libur besar seperti Lebaran kali ini. Jejaka domisili Kebayoran ini sanggup membawa uang Rp600.000 dalam satu hari.

Pihak pengelola Taman Margasatwa Ragunan menetapkan tarif Rp10.000/bendi. Dari situ, terjadi bagi hasil antara kebun binatang dengan pemilik bendi. “60-40. 60 buat mereka. 40 buat kami,” ucap Aris, pengawas fasilitas bendi. Bagi hasil dilakukan setiap sore setelah selesai bekerja.

Wahana bendi itu sendiri berjumlah 26. Jumlah itu dibagi dua sama rata berdasarkan lokasi: sebelah timur Panggung Anak-Anak dan sebelah utara kandang peragaan simpanse. Wahana naik bendi ini menjadi salah satu daya tarik kebun binatang selain Gajah Tunggang dan Onta Tunggang. Bedanya, kuda penarik bendi ini bukan binatang konservasi Ragunan. Kebanyakan dari mereka berasal dari Ulujami dan Kebayoran. “Binatang konservasi kan ga boleh berinteraksi rutin dengan manusia. Mereka dibiasakan untuk nantinya dilepas di alam liar lagi,” kata Aris.

Sebagai hewan milik pribadi, Anto-lah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan Rangga. Rangga tak memiliki hak untuk menikmati fasilitas Rumah Sakit Hewan di kawasan Ragunan. Tidur pun kadang-kadang harus mengalah jika istalnya penuh atau harus dipakai untuk kepentingan lain. Selama libur Lebaran ini, Rangga harus tidur di dekat balai pertanian karena tempatnya yang biasa beralih fungsi menjadi tempat parkir. Untuk menjaga kesehatan, Anto memberi telur seminggu sekali serta makan dedak dan rumput.

2 Comments »

  1. bioobie Said:

    oh rangga ….
    Menarik juga cerita ini:).

  2. mastomyku Said:

    luar biasa.. salam supeeer..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: